Mengenal dan Mengelola Stres Dalam Dunia Akademik
Keterangan gambar : Stres dapat diatasi jika dikenali sejak awal dan ditangani dengan langkah yang tepat (sumber : freepic)
Penulis : Diva Santia Medyana
S2MI - Stres akademik adalah kondisi ketika tuntutan belajar terasa melebihi kemampuan seseorang untuk mengatasinya. Situasi ini biasanya muncul saat tugas menumpuk, jadwal padat, atau tuntutan nilai meningkat. Jika tidak diperhatikan, stres dapat mengganggu aktivitas belajar sehari-hari.
Secara umum, stres akademik ditandai oleh perasaan cemas, terbebani, atau kewalahan menghadapi tugas akademik. Tekanan tersebut bisa datang dari diri sendiri, keluarga, atau lingkungan pendidikan.
Respons setiap orang berbeda-beda, sehingga penting memahami stres sesuai pengalaman masing-masing.
Gejala stres akademik dapat muncul secara fisik, seperti sakit kepala, sulit tidur, atau kelelahan berkepanjangan. Gejala ini sering muncul tiba-tiba ketika beban akademik meningkat. Jika dibiarkan, keluhan fisik dapat memengaruhi konsentrasi belajar.
Gejala emosional juga sering terjadi, seperti mudah marah, cemas, atau kehilangan motivasi. Perubahan ini dapat menghambat fokus dan menurunkan kualitas belajar. Pengamatan sejak awal membantu mencegah stres berkembang menjadi masalah yang lebih berat.
Dari sisi perilaku, stres dapat terlihat melalui kebiasaan menunda tugas atau procrastination. Beberapa mahasiswa juga menarik diri dari lingkungan sosial atau kehilangan minat pada aktivitas yang biasanya mereka sukai.
Perubahan ini menjadi sinyal bahwa tubuh dan pikiran membutuhkan perhatian lebih. Mengelola stres akademik menjadi penting agar keseimbangan hidup tetap terjaga.
Stres yang tidak dikelola akan menurunkan performa akademik dan mengganggu kesehatan mental. Karena itu, kemampuan mengatur emosi dan tekanan perlu dikembangkan sejak dini.
Stres berkepanjangan dapat menurunkan fungsi kognitif, termasuk kemampuan mengingat dan memecahkan masalah. Kondisi ini membuat proses belajar terasa lebih sulit meskipun waktu belajar sudah ditingkatkan. Akibatnya, nilai dan motivasi belajar bisa menurun secara signifikan.
Dalam jangka panjang, stres yang tidak ditangani dapat memicu masalah kesehatan mental seperti kecemasan atau depresi. Dampak ini tidak hanya mengganggu kehidupan akademik, tetapi juga aktivitas sehari-hari.
Situasi tersebut menunjukkan bahwa mengelola stres sangat penting dan bukan suatu pilihan.
Ada banyak strategi praktis yang dapat membantu mengurangi stres akademik. Salah satunya adalah menerapkan manajemen waktu yang baik dengan membuat jadwal belajar yang realistis.
Dengan mengatur prioritas, tugas menumpuk bisa dicegah dan kegiatan dapat terkontrol.
Keseimbangan hidup juga sangat penting untuk dijaga agar tubuh dan pikiran tetap stabil. Luangkanlah waktu untuk berolahraga, beristirahat, atau melakukan hobi supaya meredakan ketegangan.
Aktivitas sederhana seperti berjalan santai atau mendengarkan musik dapat memberi efek menenangkan.
Teknik relaksasi seperti pernapasan dalam atau mindfulness dapat membantu menurunkan kecemasan. Latihan ini membantu seseorang tetap fokus pada keadaan saat ini tanpa terbebani pikiran negatif.
Cara ini dapat dilakukan kapan saja, terutama ketika beban akademik terasa berat.
Dukungan sosial juga memiliki peran besar dalam mengelola stres. Berbagi cerita dengan teman, keluarga, atau seseorang yang dipercaya dapat membantu mengurangi tekanan emosional.
Lingkungan yang mendukung membuat proses pemulihan menjadi lebih mudah. Namun, beberapa kondisi membutuhkan bantuan profesional untuk ditangani dengan tepat.
Jika stres mulai mengganggu tidur, aktivitas harian, atau menimbulkan perasaan putus asa, penting untuk segera mencari bantuan. Untuk menangani kondisi tersebut, konselor atau psikolog dapat memberikan bantuan dengan metode yang lebih spesifik.
Mencari bantuan profesional bukan berarti seseorang lemah, tetapi menunjukkan bahwa ia peduli pada kesehatannya. Bantuan dari ahli memberikan strategi yang lebih tepat dengan keadaan masing-masing individu.
Melalui langkah ini, mahasiswa dapat kembali menjalani kewajiban akademik mereka dengan lebih sehat dan terorganisir.
Dengan memahami stres akademik dan cara mengelolanya, mahasiswa dapat menjalani proses belajar dengan lebih baik. Keseimbangan antara tuntutan akademik dan kesehatan mental perlu dijaga agar perkembangan diri berjalan optimal.
Stres dapat diatasi jika dikenali sejak awal dan ditangani dengan langkah yang tepat. ***
Editor : Rommy Mochamad Ramdhani