Keterangan Gambar : Kecerdasan Buatan hadir sebagai solusi inovatif. Namun, dibalik kecanggihannya, tersembunyi biaya lingkungan yang belum banyak disadari. Sudahkah kita mengukur dampak sebenarnya dari setiap inovasi yang kita gunakan? (sumber gambar : canva)
Penulis : Evelina Dewi Raharjo
S2MI- Artificial Intelligence (kecerdasan buatan) telah menjadi motor utama inovasi di berbagai sektor. Inovasi-inovasi berbasis AI secara progresif telah mengalihkan pola kerja dan kehidupan manusia. Namun, dibalik efisiensi dan kecanggihannya tersembunyi dampak lingkungan yang jarang disadari, khususnya konsumsi sumber daya alam krusial yakni air.
Sebuah studi ilmiah terkini mengungkapkan bahwa 20-50 interaksi tanya jawab dengan model AI canggih yang menghasilkan teks atau gambar dapat menghabiskan air pendingin setara dengan satu botol air mineral 500 ml. Angka ini terakumulasi menjadi signifikan mengingat miliaran interaksi manusia dengan AI terjadi setiap hari di seluruh dunia (Cope, 2025)
Air digunakan secara intensif dalam proses pendinginan pusat data dan server superkomputer yang menjadi 'otak' dari AI. Komponen elektronik ini memerlukan pendinginan berkelanjutan agar tidak overheating dan tetap beroperasi optimal. Sistem pendingin evaporatif yang umum mengandalkan penguapan air, menyebabkan pemborosan sumber daya.
Fenomena ini bertentangan dengan prinsip manajemen inovasi yang bertanggung jawab. Manajemen inovasi tingkat magister (S2) tidak hanya mengajarkan penciptaan nilai baru, tetapi menekankan inovasi berkelanjutan dengan mempertimbangkan dampak eksternalitas secara holistik.
Oleh karena itu, dampak hidrologis AI harus menjadi pertimbangan kritis dalam kerangka manajemen inovasi. Para manajer inovasi dan teknokrat dituntut melakukan analisis siklus hidup (life-cycle assessment) termasuk jejak air (water footprint) dari setiap solusi AI.
Inovasi seharusnya selaras dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Konsumsi air AI berpotensi mengancam SDG 6 "Clean Water and Sanitation", dengan proyeksi data center AI konsumsi hingga 1.200 miliar liter air pada 2030.
Di sisi lain, AI dapat memitigasi dampaknya dan mendukung SDG 9 (Industry, Innovation, Infrastructure) serta SDG 13 (Climate Action), seperti mengelola jaringan air, memprediksi kebocoran, atau merancang pendingin efisien.
Peran strategis manajemen inovasi sangat sentral untuk mendorong inovasi hijau dalam infrastruktur digital. Kebijakan harus investasi pada teknologi hemat air seperti pendinginan cair tertutup atau lokasi geografis dingin.
Sebagai contoh, perusahaan-perusahaan teknologi raksasa mulai menerapkan sejumlah strategi inovatif. Mereka membangun pusat data di daerah beriklim dingin dan menggunakan air hasil daur ulang untuk proses pendinginan. Langkah-langkah ini merupakan penerapan nyata dari manajemen inovasi yang menyelaraskan tujuan bisnis dengan keberlanjutan lingkungan.
Melalui lensa manajemen inovasi, komunitas global kini dipanggil untuk beralih dari pola pikir "inovasi dengan biaya berapapun" menuju paradigma "inovasi untuk keberlanjutan". Dengan menyelaraskan percepatan teknologi dan prinsip-prinsip SDGs khususnya SDG 6. Masa depan digital kita dapat maju tanpa mengorbankan fondasi kehidupan paling dasar yakni air bersih.***