Mengelola Emosi Saat Menghadapi Tekanan Akademik
Keterangan gambar : tekanan emosional akan dirasakan oleh mahasiswa dan penting untuk memiliki kemampuan mengelola emosi.
Penulis : Nakhlah Maulana Adhiasya
S2MI - Dunia akademik kerap menjadi sumber tekanan emosional yang besar bagi mahasiswa, sebab tuntutan untuk meraih prestasi, mengejar tenggat waktu, dan menghadapi materi yang menantang dapat menimbulkan stres serta kecemasan.
Kemampuan mengatur emosi dengan baik sangat diperlukan agar hambatan akademik tidak mengganggu kesehatan mental dan proses belajar, karena pengelolaan emosi yang tepat membantu seseorang tetap fokus dan termotivasi.
Langkah awal dalam mengatur emosi adalah mengenali sumber khusus dari perasaan negatif tersebut, apakah emosi muncul akibat nilai ujian yang kurang memuaskan, kesulitan memahami konsep tertentu, atau rasa takut gagal yang berlebihan.
Dengan mengetahui pemicunya, kita dapat menyusun strategi penanganan yang lebih tepat sasaran untuk mengatasi akar penyebab emosinya.
Ketika emosi negatif mulai meningkat, teknik pernapasan dalam atau mindfulness dapat menjadi cara yang sangat efektif untuk menenangkan sistem saraf.
Arahkan perhatian pada ritme pernapasan, bukan pada pikiran-pikiran yang mengganggu; selain itu, memberikan jeda singkat dari tugas yang menimbulkan stres juga penting, kemudian beralih ke aktivitas ringan seperti berjalan atau mendengarkan musik dapat membantu mengurangi ketegangan.
Sering kali, persoalan akademik semakin berat karena pola pikir yang cenderung menyalahkan diri sendiri dan memunculkan pikiran negatif secara berlebihan.
Penting untuk mengganti pikiran seperti “saya tidak akan pernah bisa” menjadi “saya akan mencoba cara lain” dan melatih diri melihat kegagalan atau hambatan sebagai kesempatan untuk belajar dan berkembang, bukan bukti bahwa kemampuan diri tidak dapat berubah.
Hindari sungkan membagikan pengalaman dan perasaan kepada orang-orang terdekat, seperti teman, keluarga, atau dosen pembimbing, karena dukungan sosial dapat memberikan sudut pandang baru dan mengurangi rasa terisolasi.
Sebagian besar institusi pendidikan juga menyediakan layanan konseling atau pusat dukungan akademik yang dapat dimanfaatkan untuk memperoleh bantuan profesional dalam menangani tekanan emosional.
Penting untuk membuat batasan yang jelas antara waktu belajar dan waktu beristirahat atau bersosialisasi, sebab menghabiskan seluruh waktu untuk belajar tanpa jeda justru dapat menurunkan efektivitas dan meningkatkan stres.
Pastikan ada waktu yang cukup untuk tidur, mengonsumsi makanan bergizi, dan berolahraga secara rutin karena hal-hal tersebut merupakan fondasi penting dalam menjaga keseimbangan emosi.
Rasa kewalahan sering muncul akibat tugas yang menumpuk tanpa rencana yang teratur, sehingga sebaiknya mulai dengan memecah tugas besar menjadi langkah-langkah kecil yang lebih mudah dikelola.
Gunakan alat seperti kalender atau daftar tugas (to do list) untuk mengatur prioritas dan memantau perkembangan belajar, sehingga membantu menumbuhkan rasa kontrol terhadap situasi.
Dalam perjalanan akademik, tantangan pasti selalu ada, tetapi penting untuk mengapresiasi setiap kemajuan, sekecil apa pun itu, bahkan merayakan pencapaian kecil seperti menyelesaikan bab sulit atau memperoleh nilai yang sedikit lebih baik.
Penguatan positif seperti ini dapat meningkatkan motivasi dan membentuk ketahanan emosional yang diperlukan untuk menghadapi tantangan yang lebih besar di kemudian hari.
Menerima bahwa tidak ada manusia yang sempurna dan bahwa kesulitan adalah bagian dari proses belajar merupakan kunci untuk mengurangi tekanan berlebihan; karena itu, hindari membandingkan diri secara tidak sehat dengan pencapaian orang lain.
Fokuskan energi pada usaha dan perbaikan diri, bukan pada hasil yang mungkin berada di luar kendali langsung kita, agar tercipta ketenangan emosi yang lebih besar.
Penulisan jurnal emosi harian (journaling) dapat menjadi sarana efektif untuk memproses dan melepaskan tekanan yang menumpuk. Tuliskan seluruh pikiran dan perasaan negatif yang muncul tanpa disaring, karena proses ini membantu memvisualisasikan masalah.
Dengan memindahkan emosi dari pikiran ke tulisan, beban psikologis dapat terasa lebih ringan, memungkinkan Anda melihat persoalan dengan pikiran yang lebih jernih dan objektif.
Selain itu, sangat penting untuk selalu mengaitkan kembali usaha belajar dengan tujuan jangka panjang yang lebih besar dalam hidup Anda, bukan hanya nilai yang harus dicapai saat ini. Ingatkan diri mengenai alasan Anda memilih jalur akademik tersebut, dan jadikan tujuan besar itu sebagai sumber inspirasi dan ketahanan emosional.
Mengelola emosi saat menghadapi tantangan akademik merupakan keterampilan yang dapat ditingkatkan melalui kesadaran diri dan latihan yang konsisten, dan dengan memadukan teknik relaksasi, pola pikir positif, serta dukungan yang tepat, kita dapat melalui masa sulit tersebut.
Pada akhirnya, keberhasilan akademik sejati tidak hanya diukur dari nilai, tetapi juga dari kemampuan menjaga kesejahteraan emosional dan mental di tengah berbagai tekanan. ***
Editor : Rommy Mochamad Ramdhani