Apa yang Sebenarnya Kita Perjuangkan di Hari Buruh?
Keterangan gambar: Dua orang pekerja di area pergudangan logistik sedang berdiskusi mengenai alur kerja dan manajemen stok.
Penulis: Nuzulul Sifaurrohmah
S2MI - Hari Buruh Internasional atau May Day setiap 1 Mei sering kali dipahami sekadar sebagai hari libur. Padahal, di baliknya terdapat sejarah panjang tentang perjuangan manusia untuk mendapatkan kondisi kerja yang layak. Peringatan ini lahir dari realitas keras pada masa awal industrialisasi, ketika sebagaimana dicatat dalam sejarah perburuhan, buruh dipaksa bekerja dalam jam yang panjang, lingkungan yang tidak aman, serta upah yang jauh dari cukup.
Pada akhir abad ke-19, tuntutan utama kaum pekerja adalah sederhana namun mendasar: pembatasan jam kerja menjadi delapan jam sehari. Sebelum itu, bekerja selama 12 hingga 16 jam per hari merupakan hal yang umum. Kondisi tersebut bukan hanya melelahkan secara fisik, tetapi juga menghilangkan ruang bagi kehidupan sosial dan kemanusiaan pekerja.
Perjuangan ini mencapai titik penting dalam peristiwa Haymarket di Chicago pada tahun 1886. Menurut berbagai literatur sejarah global, aksi yang awalnya damai berubah menjadi konflik berdarah, namun justru memperkuat solidaritas buruh di berbagai negara. Dari sinilah 1 Mei kemudian ditetapkan sebagai simbol perjuangan global bagi hak-hak pekerja.
Dari Tuntutan Hingga ke Regulasi
Perjuangan panjang tersebut pada akhirnya menghasilkan perubahan nyata. Salah satu tonggaknya adalah penetapan standar kerja internasional oleh International Labour Organization (ILO) yang menetapkan batas maksimal delapan jam kerja per hari dan 48 jam per minggu.
Sejak saat itu, isu jam kerja menjadi bagian penting dalam konsep pekerjaan layak (decent work). Hingga hari ini, berdasarkan parameter yang ditetapkan organisasi perburuhan dunia, pengaturan waktu kerja masih menjadi indikator utama dalam menilai kualitas pekerjaan, termasuk untuk mengidentifikasi praktik kerja berlebihan di berbagai negara.
Hal ini menunjukkan bahwa tuntutan “delapan jam kerja” bukan sekadar isu historis, melainkan fondasi penting dalam sistem ketenagakerjaan modern.
Dinamika Sejarah dan Transformasi Gerakan Buruh di Indonesia
Di Indonesia, sejarah Hari Buruh juga mengalami dinamika yang tidak selalu sejalan. Pada masa awal kemerdekaan, peringatan 1 Mei diakui sebagai bentuk penghargaan terhadap peran pekerja. Namun, pada era Orde Baru, peringatan ini sempat dihapus dari ruang publik karena dianggap sarat muatan politik.
Setelah Reformasi, ruang demokrasi kembali terbuka dan buruh dapat menyuarakan aspirasinya secara lebih luas. Sesuai dengan Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 24 Tahun 2013, penetapan 1 Mei sebagai hari libur nasional sejak 2014 menjadi simbol pengakuan negara terhadap pentingnya pekerja dalam pembangunan.
Meski demikian, berbagai persoalan ketenagakerjaan masih terus muncul, seperti dominasi sektor informal, sistem kerja kontrak, serta ketimpangan upah yang belum sepenuhnya teratasi, sebagaimana diatur dalam evaluasi berkala UU Ketenagakerjaan.
Tantangan Baru di Era Inovasi
Jika pada masa lalu perjuangan buruh berfokus pada jam kerja, maka tantangan saat ini menjadi jauh lebih kompleks. Perkembangan teknologi, khususnya dalam era Industri 4.0, telah mengubah cara kerja secara signifikan.
Menurut laporan strategi transformasi industri, otomatisasi dan kecerdasan buatan memang meningkatkan efisiensi, tetapi juga berpotensi menggeser banyak pekerjaan, terutama yang bersifat rutin. Dalam konteks ini, tenaga kerja dituntut untuk beradaptasi melalui peningkatan keterampilan (up-skilling), terutama di bidang digital.
Di sisi lain, dalam perspektif manajemen inovasi, organisasi tidak hanya dituntut untuk berinovasi, tetapi juga memastikan bahwa proses inovasi tetap berorientasi pada manusia (human-centered innovation). Artinya, efisiensi tidak boleh mengorbankan kesejahteraan pekerja.
Refleksi: Perjuangan yang Belum Selesai
Hari Buruh pada akhirnya bukan hanya tentang mengenang masa lalu, tetapi juga membaca arah masa depan. Isu yang dihadapi mungkin berubah, dari jam kerja menuju disrupsi teknologi, namun esensinya tetap sama: memperjuangkan martabat manusia dalam dunia kerja.
Momentum ini menjadi penting untuk mengevaluasi apakah pertumbuhan ekonomi yang terjadi benar-benar diikuti oleh peningkatan kesejahteraan pekerja. Tanpa itu, kemajuan hanya akan dinikmati oleh sebagian kecil pihak.
Memperingati Hari Buruh berarti mengingat bahwa setiap kemajuan ekonomi dibangun di atas kontribusi manusia. Oleh karena itu, di tengah arus inovasi dan perubahan teknologi yang cepat, penting untuk memastikan bahwa sistem kerja yang dibangun tetap adil, inklusif, dan berkelanjutan.
Bagi dunia akademik, termasuk dalam bidang manajemen inovasi, hal ini menjadi pengingat bahwa inovasi tidak boleh berhenti pada efisiensi, tetapi sebagaimana tujuan pembangunan berkelanjutan, harus diarahkan untuk meningkatkan kualitas hidup manusia secara keseluruhan. ***
Editor: Rommy Mochamad Ramdhani