Melatih Komunikasi dan Kerjasama Melalui Platform Gim di Solo
Sumber gambar : Canva
Penulis : Rommy Mochamad Ramdhani
S2 Manajemen Inovasi - Literasi digital adalah kemampuan yang lebih dari sekadar bisa mengoperasikan gawai atau perangkat digital. Seseorang dapat dikatakan melek digital apabila mampu menerapkan lima pilar utama dari Kementrian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) , yaitu fungsional, kolaboratif, kritis, etis, dan kreatif.
Kemampuan ini sangat penting, terutama di era digital saat ini, di mana teknologi telah terintegrasi dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari studi, pekerjaan, hingga interaksi sosial.
Pilar fungsional
Pilar fungsional mencakup pengoperasian perangkat dan perangkat lunak secara teknis. Ini adalah fondasi dari literasi digital. Contoh nyatanya bisa dilihat dari inisiatif Pemerintah Kota Solo yang meluncurkan ekstrakurikuler berbasis gim Roblox untuk siswa SMP, yang dinamakan program Edublox.
Program ini melatih siswa untuk mengoperasikan platform digital yang mungkin sebelumnya hanya mereka gunakan untuk hiburan.
Pilar kolaboratif
Pilar kolaboratif, yaitu kemampuan berkomunikasi dan bekerja sama di platform digital. Dalam program Edublox, siswa dibagi ke dalam kelompok belajar kecil. Ini mendorong mereka untuk berinteraksi dan bekerja sama, memanfaatkan Roblox sebagai alat kolaborasi untuk menyelesaikan tantangan atau proyek bersama.
Hal ini juga sejalan dengan pentingnya komunikasi yang jelas dan etis dalam kolaborasi daring.
Pilar kritis
Pilar kritis, yaitu mengevaluasi informasi dan membedakan antara fakta dan hoaks. Salah satu kekhawatiran yang muncul terkait penggunaan Roblox di sekolah adalah potensi paparan konten negatif.
Siswa diajarkan etika bermain gim, seperti menghindari kata-kata kasar atau konten yang berbau SARA dalam edublox ini.
Hal ini melatih mereka untuk menjadi pengguna yang kritis dan selektif terhadap konten digital.
Pilar etis
Pilar etis sangat erat kaitannya dengan keamanan digital dan jejak digital. Program Edublox ini menekankan pentingnya pengawasan guru dan orang tua untuk memastikan siswa tidak terpapar konten negatif.
Ini adalah langkah krusial untuk melindungi siswa. Sebab, apa pun yang diunggah di internet, selamanya akan ada di sana.
Pilar kreatif
Kreativitas dalam literasi digital adalah kemampuan menciptakan konten dan menyelesaikan masalah dengan perangkat digital.
Wali Kota Solo, Respati Ardi, melihat potensi Roblox sebagai media edukasi yang memacu kreativitas siswa.
Program ini juga selaras dengan misi Solo untuk mengembangkan teknologi dan riset, serta menyiapkan generasi digital yang kreatif. Pemerintah Kota Solo yakin bahwa dengan pengawasan yang ketat, program ini dapat menjadi sarana edukatif yang efektif.
Meskipun sempat menuai kontroversi, terutama karena adanya larangan dari Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah terkait penggunaan Roblox.
Penting untuk dipahami bahwa, seperti yang ditegaskan oleh Wali Kota Solo, program Edublox ini hanya diperuntukkan bagi siswa SMP, yang dianggap sudah mampu memahami dan mengolah materi edukasi berbasis game. Hal ini sejalan dengan perlunya pemahaman mendalam tentang keamanan dan etika digital di setiap tingkatan usia.
Program Edublox di Solo Technopark menunjukkan bagaimana teori literasi digital dapat diwujudkan dalam praktik.
Hal ini membuktikan bahwa literasi digital bukan hanya tentang penggunaan, tetapi tentang penerapan yang bijak, aman, dan efektif.
Dengan demikian, para siswa tidak hanya sekadar bermain gim, tetapi juga belajar dan mengembangkan diri secara digital.
Pada akhirnya, kesuksesan program seperti Edublox akan bergantung pada kolaborasi semua pihak, termasuk pemerintah, sekolah, guru, dan orang tua.
Dengan pengawasan dan bimbingan yang tepat, kita dapat memastikan bahwa teknologi, apa pun bentuknya, dapat dimanfaatkan untuk kebaikan dan kemajuan.***
Editor : Rommy Mochamad Ramdhani