Dari Canting Ke Inovasi: Batik Sumbersari Bondowoso
Keterangan foto : Ifriko Desriandi pemilik Sumbersari Batik (kanan)
Sumber Foto: Nursalim
Penulis : Nursalim*
S2MI - Batik bukan hanya sekadar kain bergambar, melainkan representasi nilai budaya, sejarah, dan kreativitas bangsa.
Derasnya perkembangan zaman dan persaingan industri tekstil modern, batik dituntut untuk tidak berhenti pada tradisi.
Ia harus berinovasi, baik dalam desain, bahan, maupun pelayanan agar tetap relevan dan diminati masyarakat.
Pagi itu, saya berkunjung ke Sumbersari Batik tepartnya di Desa Maesan, Kecamatan Maesan, Bondowoso. Begitu tiba, udara segar semerbak aroma malam batik yang khas. Lingkungan rindang dengan aneka pepohonan, bunga anggrek dan tampak papan bertuliskan “Sumbersari Batik, Sejak 1987”.
Saya disambut oleh Ifriko Desriandi, sosok muda yang kini menakhodai Batik Sumbersari. Dia memperkenalkan diri. “Saya generasi ke tiga atau boleh juga dikatakan generasi ke dua setengah, karena saya melanjutkan kakak saya masih saudara kandung,” ujarnya sambil tersenyum.
Ifriko menjelaskan bahwa ia meneruskan usaha yang dirintis kakak beradik Lilik Suwondo (almarhumah) dan Didik Astiawan (ayahnya), dan kakaknya, almarhum Yuke Yuliantaris. Kami berbincang di ruang kerja yang juga terdapat pajangan berbagai hasil batiknya dengan pola-pola batik beraneka warna.
Ifriko bercerita bagaimana Batik Sumbersari memulai usaha ini dengan membuat motif batik Jogjakarta dan Solo sebagai bentuk perjuangan mengisi kemerdekaan. “Batik bagi kami bukan hanya kain, tapi napas kebudayaan,” katanya.
Dia lalu mengajakku melihat ruang produksi. Di sana beberapa pekerja perempuan tampak tekun menorehkan malam panas di atas kain putih. Ifriko menjelaskan bahwa banyak di antara mereka adalah warga sekitar yang telah dilatih hingga mahir membatik. “Kami saling membutuhkan,” ujarnya. “Mereka bekerja dengan hati, dan kami berusaha menciptakan lapangan kerja bagi desa,’ tambahnya. Sambil menunjukkan beberapa kain batik yang tergantung rapi, Ifriko menceritakan bahwa hingga kini Sumbersari Batik telah memiliki lebih dari 12.650 motif terdaftar.
Salah satu ciri khasnya adalah batik motif daun singkong, kopi, singo wulung, topeng konah dan motif api Ijen kombinasi motif tradisional dan modern.
Beberapa pejabat penting dari masa Orde Baru hingga era pemerintahan Prabowo Subianto pernah berkunjung. Misalnya Menteri Penerangan Harmoko, Menteri Pemberdayaan Perempuan Sulasikin Moerpratomo, berkunjung pada tahun 1987. Menkumham Mahfud MD, Menteri Sosial Tri Rismaharini, Kepala Staf Presiden Prabowo, AM Putranto. juga pernah berkunjung ke Sumbersari Batik. Inovasi di Sumbersari Batik
Dengan latar belakang pendidikan teknik arsitektur, Ifriko membawa sentuhan desain yang lebih konseptual dan eksperimental. Diantara motif batiknya, ia menggabungkan unsur geometris dan arsitektural ke dalam pola batik, sehingga menghasilkan karya yang tidak hanya indah secara estetika tetapi juga memiliki struktur visual yang kuat. Inovasi lain terlihat dalam cara Ifriko melibatkan konsumen dalam proses desain. Ia membuka ruang konsultasi agar pelanggan dapat memesan batik dengan motif yang sesuai keinginan, misalnya dengan tambahan logo, simbol daerah, atau desain khusus yang mencerminkan identitas tertentu.
Pendekatan ini menjadikan batik bukan sekadar produk massal, melainkan hasil karya kolaboratif antara pembatik dan pengguna. Kreativitas yang terinspirasi dari kebutuhan pasar seperti ini merupakan bentuk inovasi sosial dalam dunia desain produk.
Selain aspek visual, inovasi juga tampak pada strategi pelayanan dan pemberdayaan masyarakat lokal. Sumbersari Batik bukan hanya tempat produksi, melainkan juga wadah pembelajaran bagi warga sekitar.
Ifriko melatih masyarakat untuk menguasai teknik membatik, dari proses mencanting hingga pewarnaan. Pendekatan ini menciptakan ekosistem kreatif di mana inovasi tidak hanya datang dari pemilik usaha, tetapi juga tumbuh dari para pengrajin yang berkontribusi dalam proses produksi.
Lebih jauh, Ifriko menyadari bahwa inovasi desain produk tidak bisa lepas dari identitas lokal dan nilai tradisi. Karena itu, meskipun bentuk dan warna batik terus berevolusi, filosofi dasarnya tetap berakar pada semangat pelestarian budaya.
Ia ingin agar karya Batik Sumbersari dikenang sebagai batik “legend”, karya yang tidak hanya indah secara visual, tetapi juga bermakna secara historis dan kultural. Batik Sumbersari Bondowoso berusaha menggabungkan inovasi dan tradisi dapat berpadu untuk menciptakan karya yang berkelanjutan.
Batik menjadi hidup bukan hanya karena diwariskan, tetapi karena terus dikembangkan melalui ide-ide baru yang relevan dengan zaman.
Pandemi dan Pamitan
Namun, di balik kisah sukses itu, Ifriko tidak menutupi tantangan yang dihadapi. Pandemi, kebijakan industri tekstil, hingga persaingan pasar menjadi ujian tersendiri.
“Tapi justru di saat sulit itulah kita diuji,” ucapnya dengan tegas. “Kalau bisa bertahan ketika semuanya serba susah, berarti kita benar-benar hidup sebagai pengusaha batik.”
Menjelang siang, perbincangan kami berakhir di halaman depan yang dipenuhi jemuran kain batik berwarna cerah. Sinar matahari menembus sela-sela kain, menimbulkan kilau lembut di permukaannya seolah menjadi simbol keteguhan semangat keluarga Sumbersari Batik dalam menjaga warisan budaya bangsa.
Saya meninggalkan tempat itu dengan perasaan hangat. Pertemuan yang membawa saya belajar bahwa membatik bukan hanya soal mencipta motif indah, melainkan juga tentang ketulusan menjaga identitas bangsa.
Batik Sumbersari bukan sekadar usaha, tetapi cerita tentang cinta, ketekunan, dan pengabdian terhadap budaya Indonesia. *Penulis Mahasiswa S2 Manajemen Inovasi Universitas Negeri Surabaya
Beberapa pejabat penting dari masa Orde Baru hingga era pemerintahan Prabowo Subianto pernah berkunjung. Misalnya Menteri Penerangan Harmoko, Menteri Pemberdayaan Perempuan Sulasikin Moerpratomo, berkunjung pada tahun 1987. Menkumham Mahfud MD, Menteri Sosial Tri Rismaharini, Kepala Staf Presiden Prabowo, AM Putranto. juga pernah berkunjung ke Sumbersari Batik.
Editor : Rommy Mochamad Ramdhani