Dampak Mahasiswa yang Mengikuti Tren Baru (FOMO) : Antara Manfaat dan Risiko
Penulis : Aisyah Fadilah Enari
S2MI - Fenomen Fear of Missing Out (FOMO) semakin sering muncul di kalangan mahasiswa seiring cepatnya arus informasi digital. Kondisi ini membuat banyak mahasiswa merasa harus selalu mengikuti tren terbaru agar tidak ketinggalan.
Dorongan untuk menyesuaikan diri dengan tren kerap muncul dari media sosial yang menampilkan gaya hidup ideal. Paparan konten tersebut menciptakan persepsi bahwa semua orang sedang melakukan hal menarik kecuali diri mereka sendiri.
Di satu sisi, mengikuti tren dapat memberikan manfaat bagi mahasiswa, terutama dalam hal membuka wawasan baru. Tren tertentu dapat memperkenalkan mahasiswa pada peluang yang sebelumnya tidak mereka ketahui.
Mahasiswa yang mengikuti tren positif, seperti perkembangan teknologi atau gerakan sosial, dapat meningkatkan keterampilan dan empati mereka. Hal ini membantu mereka tetap relevan dengan perubahan zaman.
Selain itu, mengikuti tren dapat memperluas jejaring sosial mahasiswa melalui komunitas atau kegiatan yang sedang diminati banyak orang. Koneksi baru ini bisa menjadi aset penting bagi perkembangan akademik maupun karier.
Namun, di sisi lain, FOMO dapat membawa risiko psikologis bagi mahasiswa. Perasaan tertekan untuk selalu mengikuti tren dapat memicu stres dan kecemasan. Mereka yang terlalu fokus pada tren juga berpotensi kehilangan identitas pribadi. Ketergantungan pada validasi sosial dapat membuat mahasiswa kurang percaya diri dalam menentukan keputusan.
Risiko finansial pun sering muncul, terutama ketika tren berkaitan dengan konsumsi barang mahal. Keinginan untuk membeli demi mengikuti lingkungan sosial dapat memicu perilaku konsumtif yang tidak sehat.
Dari sudut pandang akademik, FOMO dapat mengganggu konsentrasi belajar. Mahasiswa mungkin lebih fokus pada update tren ketimbang tugas dan tanggung jawab pendidikan.
Tren yang berubah cepat juga dapat membuat mahasiswa kewalahan karena merasa harus terus beradaptasi. Hal ini dapat menurunkan produktivitas dan mengurangi kualitas waktu istirahat mereka.
Meski begitu, FOMO sebenarnya dapat diatasi dengan membangun kesadaran diri dan batasan penggunaan media sosial. Mahasiswa perlu memahami bahwa tidak semua tren harus diikuti, terutama jika tidak sesuai dengan kebutuhan pribadi.
Dengan pendekatan yang seimbang, mahasiswa dapat mengambil manfaat dari tren tanpa terjebak dalam tekanan sosial. Kesadaran ini membantu mereka menjalani kehidupan akademik dan sosial secara lebih sehat dan produktif.***
Editor : Rommy Mochamad Ramdhani