Borneo Flasher Sabet Juara Dunia Teknisi Ponsel di China

Sumber Gambar : Canva
Penulis : Rommy Mochamad Ramdhani
S2 M.I - Keberhasilan gemilang tim teknisi ponsel Indonesia, Borneo Flasher, meraih gelar juara dunia kategori grup dalam ajang bergengsi Circuit Global Championship (CGC) World Cup 2025 di Guangzhou, China, adalah kisah inspiratif yang layak dibedah, tidak hanya dari sisi teknis tetapi juga dari perspektif perilaku organisasi.
Kompetisi yang diadakan pada 17-18 September 2025 ini menguji kemampuan reparasi CPU, segmen paling kompleks dalam perangkat elektronik. Kemenangan yang dicapai dalam waktu super cepat, 5 menit 36 detik 91 milidetik, menjadi bukti nyata kualitas sumber daya manusia (SDM) kita di kancah global.
Tim yang diperkuat oleh Gume iColor, Atnan S (Atnan Nacha), Diki Arista, dan Gugum Gumilar ini memperlihatkan perpaduan langka antara kecepatan tangan, ketelitian, dan sinergi tim yang optimal. Jika dianalisis menggunakan teori kebutuhan McClelland, terlihat jelas bahwa motivasi utama yang mendasari para teknisi ini adalah kebutuhan akan prestasi (nAch).
Dorongan untuk unggul, mencapai standar tertinggi, dan menyelesaikan tantangan reparasi CPU secara efisien adalah inti dari nAch dan terwujud sempurna dalam kinerja impresif mereka. Kisah Borneo Flasher ini juga merupakan perwujudan sempurna dari teori penetapan tujuan (Goal Setting Theory).
Tujuan ini menuntut para teknisi untuk memiliki kemampuan diri (Self-Efficacy) yang tinggi, yakni kepercayaan penuh pada kemampuan mereka untuk mengungguli pesaing. Prestasi ini juga menyentuh aspek kebutuhan harga diri dan aktualisasi diri dalam hierarki kebutuhan Maslow.
Kemenangan ini memberikan pengakuan dari komunitas global dan menetapkan status mereka sebagai teknisi kelas dunia. Faktor kerja sama tim yang solid yang disoroti dalam laporan ini dapat dilihat melalui lensa teori ERG Alderfer, khususnya kategori keterhubungan (Relatedness).
Dalam situasi kompetisi bertekanan tinggi, ikatan interpersonal dan rasa memiliki (sense of belonging) yang kuat sangat krusial. Rasa saling percaya dan keterhubungan inilah yang memungkinkan transisi tugas reparasi yang sangat sensitif dilakukan dengan mulus, tanpa hambatan komunikasi yang menghabiskan waktu.
Selain motivasi intrinsik, keberhasilan ini juga didukung oleh faktor motivator dalam teori dua faktor Herzberg. Prestasi yang dicapai, pengakuan sebagai juara dunia, dan tanggung jawab yang mereka emban sebagai perwakilan negara, berfungsi sebagai pendorong kepuasan sejati.
Ini jauh melebihi faktor Higiene semata, ini adalah tentang isi pekerjaan itu sendiri yang memberikan makna dan pertumbuhan pribadi (Growth). Dampak dari kemenangan ini meluas pada rumus kinerja organisasi, Kinerja=f(Kemampuan×Motivasi×Kesempatan).
Tim Borneo Flasher menunjukkan kemampuan (keterampilan reparasi CPU), motivasi (nAch dan Aktualisasi Diri), dan kesempatan (berkompetisi di CGC World Cup) berada pada titik optimal. Adanya Kesempatan seperti CGC World Cup adalah katalis yang mengubah potensi menjadi performa luar biasa.
Kemenangan ini memiliki implikasi nasional yang besar. Seperti yang disebutkan, keberhasilan ini membuka peluang Indonesia diakui sebagai pusat pelatihan teknisi ponsel kelas dunia. Indonesia patut berbangga atas pencapaian ini, yang sekaligus menjadi penanda bahwa SDM profesional kita telah siap bersaing dan memimpin di panggung teknologi dunia.***
Editor : Rommy Mochamad Ramdhani