Berpikir Positif dalam Berasumsi untuk Meningkatkan Performa Belajar Mahasiswa
Keterangan gambar : Cara berpikir positif dan terbuka khususnya dalam berasumsi dapat membantu meningkatkan performa individu (sumber : canva).
Penulis : Rifky Bintang Adi Seventnovan
S2MI - Dalam kehidupan akademis, mahasiswa sering menghadapi situasi yang memaksa mereka mengambil keputusan dengan cepat. Pada saat seperti itu, cara mereka membuat asumsi menjadi hal yang penting, karena memengaruhi keputusan yang diambil serta prosesnya.
Asumsi pada dasarnya adalah kesimpulan awal yang muncul sebelum fakta sepenuhnya diketahui. Dalam perkuliahan, asumsi bisa muncul ketika mahasiswa menafsirkan instruksi dosen, menilai kesulitan tugas, atau memahami komentar teman sekelas.
Asumsi negatif, seperti mengira dosen tidak menyukai diri sendiri, merasa tugas terlalu sulit bahkan sebelum mencoba, atau mengira teman mengkritik untuk menjatuhkan, bisa mengurangi semangat belajar. Itulah mengapa berprikir positif itu penting.
Berpikir positif bukan hanya bersikap optimis semata, tetapi mampu mengarahkan cara berpikir awal ke arah yang lebih sehat, terbuka, dan bermanfaat.
Dalam psikologi kognitif, asumsi negatif dapat memicu self fulfilling prophecy, yaitu kondisi ketika keyakinan seseorang justru menghasilkan realitas yang ia takutkan. Contohnya, seorang mahasiswa yang percaya bahwa dirinya “Pasti gagal” biasanya menghindari berlatih, menunda belajar, dan akhirnya benar-benar gagal karena tingkah lakunya sesuai dengan keyakinannya.
Sebaliknya, ketika mahasiswa yakin bahwa mereka bisa memahami mata kuliah selama berusaha dengan benar, keyakinan itu mendorong mereka belajar lebih keras, bertanya ketika tidak paham, dan mencari bahan belajar tambahan.
Keyakinan positif ini membentuk tindakan yang meningkatkan kemungkinan meraih keberhasilan.
Jika asumsi negatif tidak diperhatikan, mahasiswa bisa merasa rendah diri, kehilangan semangat belajar, atau bahkan menghindari mengikuti mata kuliah tertentu.
Tapi, ketika mahasiswa bisa mengubah cara pikirnya dan melihat kritik sebagai kesempatan untuk berkembang, respons emosional dan sikapnya menjadi lebih baik.
Studi kasus sederhana dapat menggambarkan hal ini. Seorang mahasiswa yang mendapat revisi besar pada tugasnya merasa bahwa dosen “Tidak menyukainya”.
Setelah berdiskusi, ia mengetahui bahwa revisi itu diberikan karena potensinya menonjol dan dosen ingin mendorong kualitas tulisannya. Perubahan asumsi tersebut meningkatkan kepercayaan diri dan performa akademisnya.
Berpikir positif saat berasumsi juga memengaruhi cara mahasiswa menghadapi tugas yang sulit. Jika mereka memikirkan hal negatif seperti “Tugas ini terlalu sulit bagiku”, otak mereka jadi berhenti mencari cara untuk menyelesaikannya.
Tapi, jika mereka berpikir positif seperti “Tugas ini sulit, tapi bisa dikerjakan pelan-pelan”, maka mahasiswa akan lebih cepat menemukan cara belajar yang tepat.
Penelitian mengenai growth mindset turut mendukung hal ini. Mahasiswa dengan pola pikir berkembang cenderung membuat asumsi positif tentang kesalahan dan kegagalan, sehingga mereka lebih tangguh menghadapi tekanan akademik.
Menerapkan berpikir positif tidak berarti mengabaikan masalah yang ada. Mahasiswa justru diajarkan untuk mengelola cara memahami suatu situasi, mempertimbangkan fakta-fakta yang ada, dan memproses informasi secara jelas sebelum membuat kesimpulan.
Kemampuan ini bisa dilatih dengan cara berlatih mindfulness, menggunakan teknik reframing kognitif, serta membiasakan diri memeriksa informasi terlebih dahulu sebelum merespons.
Secara umum, berpikir positif saat membuat asumsi adalah kemampuan akademik yang sangat berpengaruh terhadap hasil belajar mahasiswa. Kebiasaan ini membantu meningkatkan rasa percaya diri, memperkuat kemampuan berkomunikasi, dan mengurangi kesalahpahaman.
Akibatnya, mahasiswa bisa melatih kemampuan berpikir kritis, tetap semangat dalam belajar, dan mencapai prestasi akademik yang lebih baik.***
Editor : Rommy Mochamad Ramdhani