Belajar Tenang di Usia Dewasa: Survive Kuliah dan Hidup
Keterangan foto: Perjalanan menuju wisuda bukan hanya soal tugas dan nilai, tetapi tentang belajar menjaga keseimbangan di tengah tekanan dan tuntutan hidup (Sumber : canva)
Penulis: Rachma Aulia
S2MI - Usia dewasa sering kali menjadi masa transisi penuh tekanan. Ada kuliah yang menuntut, aktivisme yang melelahkan, dan kehidupan yang terus bergerak tanpa henti.
Belajar tenang bukan berarti berhenti berjuang. Justru, ketenangan adalah strategi agar energi tidak habis di tengah jalan.
Di bangku kuliah, tugas dan deadline sering terasa menyesakkan. Namun, dengan sikap tenang, kita bisa mengurai satu per satu tanpa kehilangan fokus. Survive kuliah berarti menerima bahwa tidak semua bisa sempurna yang penting adalah konsistensi, disiplin, dan kemampuan menjaga diri dari stres berlebihan.
Hidup dewasa juga penuh dengan pilihan besar, seperti karier, relasi, dan masa depan. Ketika pikiran kacau, ketenangan menjadi kompas yang menuntun arah.
Survive hidup berarti berdamai dengan ketidakpastian. Tak semua hal bisa dikendalikan, tapi kita bisa memilih cara meresponsnya. Latihan sederhana seperti menarik napas dalam, menulis jurnal, atau berjalan santai bisa menumbuhkan ketenangan. Aktivitas kecil ini membantu pikiran tetap jernih.
Ketenangan juga lahir dari komunitas yang suportif. Berbagi cerita dengan teman atau kelompok membuat kita merasa tidak sendirian.
Pada akhirnya, survive kuliah dan hidup bukan soal siapa yang paling cepat. Tetapi siapa yang mampu bertahan dengan hati yang tetap damai.
Belajar tenang di usia dewasa adalah investasi jangka panjang. Dengan ketenangan, kita tumbuh lebih bijak, lebih kuat, dan lebih siap menghadapi dunia***
Survive hidup berarti berdamai dengan ketidakpastian. Tak semua hal bisa dikendalikan, tapi kita bisa memilih cara meresponsnya. Latihan sederhana seperti menarik napas dalam, menulis jurnal, atau berjalan santai bisa menumbuhkan ketenangan. Aktivitas kecil ini membantu pikiran tetap jernih.
Ketenangan juga lahir dari komunitas yang suportif. Berbagi cerita dengan teman atau kelompok membuat kita merasa tidak sendirian.
Pada akhirnya, survive kuliah dan hidup bukan soal siapa yang paling cepat. Tetapi siapa yang mampu bertahan dengan hati yang tetap damai.
Belajar tenang di usia dewasa adalah investasi jangka panjang. Dengan ketenangan, kita tumbuh lebih bijak, lebih kuat, dan lebih siap menghadapi dunia***
Editor : Rommy Mochamad Ramdhani