Soft Skill VS Hard Skill: Mana Yang Lebih Dibutuhkan Mahasiswa Saat Ini?
Keterangan foto: Perbandingan soft skills dan hard skills sebagai dua kompetensi penting yang saling melengkapi dalam dunia perkuliahan dan kerja saat ini (Sumber: Canva).
Penulis: Nikmal Maulina Arba’ani
S2MI - Mahasiswa saat ini dihadapkan pada tantangan dunia yang semakin kompleks dan dinamis. Untuk itu, kemampuan teknis saja tidak lagi cukup, butuh kombinasi kompetensi yang lebih luas.
Hard skill adalah kemampuan teknis atau keahlian khusus dalam bidang tertentu, seperti pemrograman, analisis data, akuntansi, dan keahlian profesional lain yang dapat dipelajari melalui pendidikan formal, kursus, atau pelatihan.
Sedangkan, soft skill mencakup kemampuan interpersonal dan karakter pribadi, seperti kemampuan berkomunikasi, bekerja sama dalam tim, manajemen waktu, empati, dan kecerdasan emosional.
Apalagi sebagai mahasiswa, hard skill memberi dasar agar mereka dapat menjalankan tugas akademik dan teknis sesuai bidang studinya. Tanpa penguasaan hard skill, mahasiswa mungkin kesulitan memenuhi tuntutan praktis di perkuliahan maupun dunia kerja.
Namun, di luar tugas teknis, soft skill memainkan peran penting dalam membentuk kemampuan mahasiswa untuk beradaptasi, berkomunikasi, dan bekerja sama, baik dalam kelompok studi, organisasi kampus, maupun ketika memasuki lingkungan profesional.
Dalam banyak kasus, dunia kerja, perkulihan, dan tugas tim menuntut kolaborasi, penyelesaian masalah bersama, serta komunikasi efektif. Soft skill seperti kerjasama tim, kepemimpinan, dan kemampuan menyelesaikan konflik menjadi sangat penting.
Seorang mahasiswa yang unggul dalam hard skill tetapi kurang memiliki soft skill bisa saja sulit berkembang dalam tim atau gagal memanfaatkan keahliannya secara optimal. Sebaliknya, seseorang dengan soft skill baik tetapi tanpa penguasaan teknis bisa saja kesulitan menyelesaikan tugas spesifik.
Oleh karena itu, keduanya tidak bisa dipandang secara terpisah maupun saling menggantikan. Hard skill dan soft skill jika dikombinasikan dapat membentuk profil mahasiswa dan profesional yang lebih lengkap dan adaptif.
Perubahan dunia kerja yang cepat, didorong oleh kemajuan teknologi dan otomatisasi, membuat soft skill makin penting. Tugas rutin dan teknis bisa jadi digantikan oleh mesin atau perangkat lunak, sementara kemampuan kemanusiaan, seperti kreativitas, empati, komunikasi tetap menjadi domain manusia.
Bagi mahasiswa, hal ini berarti selain mempelajari keahlian teknis di kampus, sudah seharusnya mereka juga mengasah soft skill melalui interaksi sosial, organisasi, kepanitiaan, proyek kelompok, atau aktivitas di luar akademik.
Misalnya, soft skill dapat dikembangkan melalui keterlibatan dalam organisasi kampus, seperti HIMA, BEM lalu kerja kelompok, diskusi, presentasi, dan kegiatan kolaboratif lainnya yang dapat melatih komunikasi, kepemimpinan, tanggung jawab, dan adaptabilitas.
Lebih jauh, studi menunjukkan bahwa kombinasi hard skill dan soft skill berkontribusi signifikan terhadap kesiapan kerja dan performa di lingkungan profesional. Mahasiswa yang mampu menjaga keseimbangan antara kompetensi teknis dan interpersonal akan lebih mudah menyesuaikan diri dengan tuntutan dunia kerja yang dinamis.
Mereka tak hanya mampu menyelesaikan tugas, tetapi juga mampu berkolaborasi, berinovasi, dan berkomunikasi dengan baik.
Selain itu, soft skill sering menjadi pembeda dalam seleksi kerja atau saat memasuki tim kerja. Dengan demikian, pertanyaan “mana yang lebih dibutuhkan mahasiswa saat ini?” tidak bisa dijawab dengan memilih salah satu. Jawaban lebih tepat adalah mahasiswa membutuhkan keduanya, dan lebih penting lagi adalah kemampuan untuk menggabungkan keduanya dengan seimbang sesuai konteks.
Memang, prioritas antara hard skill dan soft skill bisa berubah tergantung situasi saat mengerjakan tugas teknis, hard skill lebih dominan saat bekerja dalam tim atau berinteraksi dan soft skill menjadi krusial. Dengan bekal kombinasi keduanya, mahasiswa akan lebih siap menghadapi tantangan akademik, profesional, dan perubahan zaman, sehingga mampu berkontribusi secara efektif dan adaptif di masyarakat.***
Editor : Rommy Mochamad Ramdhani