Seni Membatasi Layar demi Kedamaian Jiwa
Keterangan gambar :
Penulis : Hania Muhammad Bagir Bsa
S2MI - Keberadaan ponsel pintar dalam genggaman sering kali menjadi pedang bermata dua bagi manusia modern. Di satu sisi ia memudahkan segala urusan, namun di sisi lain ia dapat memicu kecemasan akibat paparan informasi yang tanpa henti atau information overload.
Langkah pertama yang paling krusial adalah menyadari seberapa besar ketergantungan kita terhadap perangkat tersebut. Anda bisa mulai memantau durasi penggunaan layar melalui fitur screen time yang tersedia untuk mengevaluasi aplikasi apa saja yang paling banyak menyita waktu produktif.
Setelah menyadari pola penggunaan, mulailah menetapkan batasan ruang fisik yang bebas dari teknologi. Cobalah untuk tidak membawa ponsel ke dalam kamar tidur agar kualitas istirahat meningkat dan Anda terhindar dari kebiasaan buruk melakukan doomscrolling sebelum memejamkan mata.
Menonaktifkan pemberitahuan yang tidak mendesak juga menjadi kunci utama dalam menjaga fokus sepanjang hari. Dengan mematikan push notifications, Anda memegang kendali penuh atas kapan harus memeriksa pesan, alih-alih terus-menerus terdistraksi oleh bunyi denting yang memicu rasa ingin tahu berlebih.
Selain itu, sangat penting untuk menjadwalkan waktu khusus untuk melakukan digital detox secara berkala. Anda bisa mencoba menjauh dari gawai selama beberapa jam di akhir pekan untuk menikmati momen nyata bersama keluarga atau sekadar meresapi keheningan tanpa gangguan dunia maya.
Mengalihkan perhatian pada hobi yang bersifat fisik atau analog dapat menjadi alternatif yang menyegarkan pikiran. Membaca buku cetak, berkebun, atau melukis memberikan kepuasan batin yang jauh lebih dalam dibandingkan sekadar mencari validasi melalui fitur like di media sosial.
Saat berada dalam pertemuan sosial, usahakan untuk mempraktikkan etika phone free zone demi menghargai lawan bicara. Interaksi tatap muka yang berkualitas akan membangun koneksi emosional yang lebih kuat daripada sekadar bertukar pesan singkat melalui aplikasi instant messaging.
Penerapan mode layar hitam putih atau grayscale juga terbukti efektif dalam mengurangi daya tarik visual dari aplikasi yang adiktif. Tanpa warna-warni yang mencolok, otak kita cenderung tidak terlalu terstimulasi untuk terus-menerus menatap layar ponsel dalam durasi yang lama.
Penting juga bagi kita untuk berhenti membandingkan hidup dengan standar kesempurnaan yang ditampilkan oleh orang lain di linimasa. Perasaan fear of missing out atau sering disebut FOMO hanya akan menambah beban pikiran dan menjauhkan kita dari rasa syukur atas apa yang sudah dimiliki.
Pada akhirnya, mengurangi penggunaan ponsel bukan berarti memusuhi teknologi, melainkan upaya untuk mendapatkan kembali kendali atas hidup. Dengan membatasi koneksi digital, kita justru membuka pintu lebih lebar menuju ketenangan batin dan keseimbangan hidup yang lebih berkelanjutan.***
Editor : Rommy Mochamad Ramdhani