S2MI - Penangkapan WFT, pemuda 22 tahun dari Minahasa, pada 23 September 2025, yang diumumkan resmi oleh Polda Metro Jaya, seharusnya menutup buku kasus hacker Bjorka. Namun, munculnya akun yang masih menyindir aparat membuktikan penyampaian Informasi di era digital jauh lebih kuat daripada individu yang ada di baliknya.
Prinsip dasar literasi digital mengajarkan bahwa pesan harus menonjol di tengah lalu lintas informasi padat.
Bjorka berhasil. Klaim peretasan 4,9 juta akun nasabah bank swasta adalah pesan yang begitu kuat dan terstruktur sehingga langsung meningkatkan dampak dan kredibilitas sosok hacker tersebut di mata publik.
Pada Februari 2025, pengunggahan tampilan database nasabah di media sosial adalah taktik kunci. Ini adalah aplikasi praktis dari prinsip grafik dan Infografis, mengubah data curian yang kompleks menjadi visual yang meyakinkan dan dramatis.
WFT memahami bahwa jangkauan pesan harus maksimal. Sejak 2020, ia menggunakan banyak alias dan aktif di berbagai channel digital: X, Telegram, Instagram, TikTok, dan Facebook. Penggunaan multi platform ini mengoptimalkan jangkauan melalui integrasi berbagai elemen multimedia, yang efektif membangun citra dirinya.
Narasi Bjorka menerapkan dua prinsip penting. Pertama, Conciseness (Keringkasan), di mana pesan utamanya selalu fokus pada satu ide: klaim peretasan dan pemerasan. Kedua, Engagement (Keterlibatan). Dengan terus berganti-ganti akun (Bjorka, SkyWave, Shint Hunter, Oposite6890), Bjorka menciptakan misteri dan berhasil menjaga perhatian audiens tetap terlibat.
Interaksi Bjorka di media sosial (mengirim pesan langsung ke bank dan menyindir polisi pasca penangkapan) berfungsi sebagai sesi Q&A Digital. Meskipun bukan jejak pendapat resmi, cara ini efektif mendapatkan feedback instan, menjaga alur narasi tetap hidup, dan memicu keterlibatan publik.
WFT menguasai presentasi multimedia, namun melupakan risiko pada teknologi pendukung penyampaian. Polisi berhasil menyita komputer dan ponsel yang berisi bukti digital terkait posting, transaksi, dan aktivitas ilegalnya. Ini adalah pengingat keras bahwa setiap aksi digital meninggalkan jejak.
Kisah Bjorka menunjukkan jurang antara keterampilan teknis dan etika digital. Keberhasilannya dalam penyampaian pesan dinodai penggunaan media ilegal (data curian) dan bertujuan kriminal (pemerasan). Kompetensi digital sejati harus mencakup kesadaran kritis dan etis.
Manusia mengingat 50% dari apa yang mereka lihat dan dengar melalui multimedia, dan Bjorka berhasil mengintegrasikan teks, visual, secara multi platform yang harmonis. Sehingga narasi yang dibangunnya menjadi mudah diingat dan memiliki.
Daya ingat yang kuat inilah yang memungkinkan munculnya "Bjorka-Bjorka" lain pasca penangkapan WFT.***