Memahami Nilai Lintas Budaya Melalui Insiden Paralayang Bromo
Sumber Gambar : Canva . Penulis : Rommy Mochamad Ramdhani
S2 Manajemen Inovasi - Sebuah kasus menarik baru-baru ini viral, aksi seorang turis Korea Selatan yang melakukan paralayang di kawasan sakral Gunung Bromo.
Peristiwa ini bukan hanya sekadar pelanggaran aturan, tetapi juga studi kasus yang sempurna untuk memahami bagaimana nilai dan sikap memengaruhi perilaku, terutama dalam konteks lintas budaya.
Nilai adalah keyakinan mendasar tentang apa yang dianggap baik atau buruk. Nilai bersifat personal, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh lingkungan dan budaya. Kita melihat adanya benturan nilai antara turis asing dan masyarakat lokal. Bagi wisatawan Korea, mungkin nilai yang dianut adalah kebebasan, pengalaman pribadi yang unik, atau bahkan ambisi untuk mencapai sesuatu yang tidak biasa.
Mereka mungkin menganggap Bromo sebagai destinasi wisata petualangan yang bisa dieksplorasi dengan cara apa pun. Ini bisa jadi cerminan dari nilai terminal seperti kebebasan, dan nilai instrumental seperti mandiri, yang menurut Rokeach, merupakan tujuan akhir dan cara untuk mencapainya.
Masyarakat Tengger dan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) memiliki persepsi bahwa wilayah tersebut adalah kawasan yang sangat sakral dan merupakan area konservasi ketat.
Nilai yang mereka junjung tinggi adalah penghormatan terhadap alam, tradisi, dan spiritualitas. Nilai ini kemungkinan besar bersumber dari orang tua, lingkungan, dan budaya yang sudah diajarkan sejak kecil.
Sikap turis tersebut terhadap kawasan Bromo tampaknya positif dari sisi rekreasi, tetapi negatif dari sisi penghormatan terhadap aturan dan kearifan lokal. Secara kognitif, turis itu mungkin yakin bahwa aktivitasnya tidak berbahaya. Secara afektif, ia merasakan kesenangan atau kegembiraan saat terbang. Namun, perilakunya menerbangkan paralayang tanpa izin jelas bertentangan dengan keyakinan sebagian besar masyarakat lokal bahwa Bromo adalah tempat yang harus dijaga kesakralannya.
Perilaku ini memicu apa yang disebut disoansi kognitif, yaitu ketidaknyamanan yang muncul akibat inkonsistensi antara sikap dan perilaku. Masyarakat lokal mengalami disonansi ini karena tindakan turis tersebut tidak sesuai dengan nilai-nilai yang mereka pegang. Bahkan komunitas paralayang lokal pun mengaku terkejut karena biasanya turis selalu meminta izin terlebih dahulu, yang menunjukkan bahwa mereka memiliki sikap yang konsisten dengan nilai-nilai lokal.
Kasus ini juga menyoroti perbedaan nilai lintas budaya ala Hofstede. Aksi turis Korea Selatan ini bisa jadi mencerminkan individualisme, di mana ia memprioritaskan keinginan pribadinya di atas aturan kolektif. Sementara itu, masyarakat Tengger menjunjung tinggi kolektivisme dan penghormatan terhadap norma-norma yang berlaku untuk komunitas.
Meskipun kepuasan turis dan produktivitas pariwisata penting, kasus ini menunjukkan bahwa keduanya tidak boleh mengabaikan nilai-nilai fundamental. Seperti halnya kepuasan kerja yang tidak selalu berbanding lurus dengan produktivitas, kepuasan turis untuk mendapatkan pengalaman ekstrem juga tidak boleh mengesampingkan produktivitas kawasan dalam menjaga kelestarian alam dan budaya.
Kasus ini mengajarkan kita bahwa pemahaman terhadap nilai, sikap, dan kepuasan sangat krusial dalam mengelola interaksi sosial, bahkan dalam skala global. Aksi seorang turis yang sekilas tampak sepele, ternyata mampu membongkar lapisan-lapisan kompleks dari perbedaan budaya dan etika.***
Editor : Rommy Mochamad Ramdhani