S2MI - Teknologi digital telah mengubah cara kita berinteraksi, bekerja, dan belajar. Namun, kemudahan ini datang dengan tanggung jawab besar.
Etika siber menjadi sangat penting, terutama saat kita melihat bagaimana tindakan di dunia maya bisa memiliki konsekuensi di dunia nyata.
Belakangan ini, kasus foto editan pemain Timnas Indonesia menggunakan Artificial Intelligence (AI) menjadi contoh nyata akan perlunya etika dalam beraktivitas digital. Foto-foto yang viral di media sosial tersebut memperlihatkan beberapa pemain Timnas, seperti Rizky Ridho, Sandy Walsh, dan Justin Hubner, seolah-olah berpose mesra dengan penggemar perempuan.
Kasus ini menyoroti pentingnya menghormati privasi orang lain. Mengunggah foto atau video orang lain tanpa persetujuan merupakan pelanggaran privasi. Para pemain tidak hanya mengalami pelanggaran privasi, tetapi juga merasa dirugikan karena foto-foto tersebut dapat menimbulkan kesalahpahaman, apalagi sebagian dari mereka sudah memiliki pasangan.
Rizky Ridho, Justin Hubner, dan Sandy Walsh pun secara terbuka menyampaikan protes mereka.
Selain itu, kasus ini juga berkaitan erat dengan etika dalam berkomunikasi dan menjadi netizen yang baik atau netiquette. Meskipun tindakan ini tidak termasuk cyberbullying , tindakan mengedit foto dengan pose yang melewati batas kesopanan bisa memicu masalah hukum, merusak reputasi, dan merugikan secara finansial.
Kasus ini seharusnya menjadi pengingat bagi kita semua untuk selalu berpikir sebelum berbagi. Meskipun tren mengedit foto AI ini sedang viral dan mudah dilakukan, kita harus selalu memikirkan dampaknya.
Setiap interaksi daring kita membentuk jejak digital yang tidak mudah hilang. Kita harus menjadi warga digital yang bertanggung jawab dan berkontribusi menciptakan ruang digital yang positif, aman, dan produktif untuk semua.***