Komunikasi Efektif di Era Digital, Kunci Sukses Civitas Akademika
Keterangan foto : Komunikasi yang efektif dan beretika di era digital adalah fondasi penting bagi seluruh civitas akademika untuk mencapai kesuksesan Bersama.
Penulis : Rommy Mochamad Ramdhani
S2MI - Di era digital yang serba cepat ini, komunikasi telah menjadi urat nadi yang tak terpisahkan dalam lingkungan akademik. Bagi civitas akademika dosen, staf, dan terutama mahasiswa, kemampuan berkomunikasi secara efektif dan beretika adalah aset berharga yang menentukan kelancaran proses belajar-mengajar.
Etika komunikasi bukan sekadar formalitas, melainkan cerminan profesionalisme dan penghormatan terhadap peran masing-masing. Tantangan terbesar muncul dalam interaksi melalui media digital, seperti email, aplikasi pesan instan, atau platform belajar daring. Kecepatan dan kemudahan teknologi sering kali membuat kita abai terhadap kaidah kesantunan. Sebagai contoh, bagaimana seorang mahasiswa merespons pesan atau pertanyaan dari dosennya menjadi indikator penting seberapa jauh ia menghargai waktu dan hierarki dalam konteks pendidikan.
Mari fokus pada perspektif mahasiswa. Menerima pesan dari dosen entah itu pengumuman penting atau klarifikasi tugas membutuhkan respons yang cepat dan tepat. Penundaan respons yang terlalu lama tanpa alasan yang jelas dapat mengganggu alur kerja dosen dan menimbulkan asumsi bahwa pesan tersebut diabaikan.
Waktu adalah komitmen yang harus dijaga bersama.
Etika dimulai dari formalitas sapaan. Hindari memulai pesan dengan sapaan informal yang biasa digunakan pada teman sebaya. Selalu gunakan sapaan yang jelas, seperti "Bapak/Ibu [Nama Dosen]" atau "Selamat pagi/siang, Bapak/Ibu." Tunjukkan bahwa Anda mengerti bahwa Anda sedang berkomunikasi dalam kapasitas akademik profesional.
Selain sapaan, perhatikan pula struktur isi pesan Anda. Sampaikan maksud dan tujuan dengan ringkas, lugas, dan terstruktur. Jika Anda ingin bertanya, pastikan pertanyaan Anda spesifik dan mencantumkan detail pendukung, seperti mata kuliah, kelas, atau screenshot jika relevan.
Perhatikan penggunaan bahasa. Jauhkan diri dari bahasa gaul, singkatan yang tidak umum seperti 'GWS'. Prinsip utamanya pilih pemilihan kata agar tetap sopan juga resmi, dan apabila Anda akan menggunakan bantuan AI untuk membuat kalimat, pastikan sesuaikan konteks sehingga tak terkirim kata-kata "by chat gpt".
Hal yang tak kalah penting adalah waktu pengiriman pesan. Meskipun teknologi memungkinkan kita berkirim pesan 24 jam, hindari mengirim pesan di luar jam kerja yang wajar, kecuali dalam keadaan darurat yang sangat mendesak. Tindakan ini menunjukkan penghargaan terhadap batas personal dan profesional dosen Anda. Beri mereka ruang pribadi mereka.
Bagaimana jika Anda tidak bisa segera merespons? Etika yang baik adalah mengirimkan balasan singkat yang mengonfirmasi bahwa Anda telah menerima pesan dan akan memberikan respons penuh dalam jangka waktu tertentu. Contohnya: "Baik, Bapak/Ibu. Mohon waktu sebentar, saya akan cek data dan akan saya balas maksimal jam 15.00."
Konfirmasi penerimaan adalah kunci.
Respons yang etis dan profesional tidak hanya memberikan citra positif bagi mahasiswa, tetapi juga memperkuat iklim akademik yang sehat di lingkungan kampus. Dosen akan merasa lebih diterima sebagai bagian dari kelas, yang pada akhirnya memotivasi mereka untuk memberikan bimbingan yang lebih maksimal dan efektif kepada mahasiswa.
Oleh karena itu, mari kita jadikan etika komunikasi sebagai bagian integral dari kompetensi akademik. Baik melalui email formal, pesan singkat, maupun saat bertemu langsung, ingatlah bahwa setiap interaksi adalah kesempatan untuk menunjukkan respek, tanggung jawab, dan kesiapan Anda sebagai bagian dari civitas akademika yang berbudaya tinggi.***
Editor : Rommy Mochamad Ramdhani