Emosi dan Kecerdasan Emosi di Kasus Ambulans Bojonegoro

Gambar : Canva
Penulis : Rommy Mochamad Ramdhani
S2MI - Insiden yang terjadi di Bojonegoro, di mana sebuah mobil menghalangi laju ambulans yang membawa pasien kritis, menjadi viral dan memicu kemarahan publik.
Kejadian ini dapat dianalisis dari perspektif psikologi perilaku, khususnya terkait konsep emosi dan kecerdasan emosi.
Pemahaman akan konsep ini dapat membantu kita melihat mengapa insiden ini memicu reaksi yang begitu kuat dari berbagai pihak.
Sopir ambulans adalah seorang profesional yang bekerja di bawah tekanan tinggi. Dalam situasi ini, hambatan yang dilakukan oleh pengemudi Innova merupakan peristiwa kerja negatif. Berdasarkan Affective Events Theory (AET), peristiwa seperti ini memicu reaksi emosional pada karyawan, yang kemudian memengaruhi sikap dan perilaku mereka. Dalam kasus ini, peristiwa yang menghalangi laju ambulans memicu emosi negatif pada sopir ambulans.
Emosi, yang didefinisikan sebagai perasaan intens yang diarahkan pada seseorang atau sesuatu, dalam hal ini adalah kemarahan kepada sopir Innova. Emosi ini bersifat intens dan berlangsung singkat, namun memengaruhi perilaku secara langsung.
Sopir ambulans, yang merasa nyawa pasien dipertaruhkan, sulit mengendalikan emosinya dan bertindak reaktif dengan menghentikan kendaraan serta mendatangi pengemudi Innova. Ini adalah contoh nyata bagaimana emosi negatif dapat mengganggu konsentrasi, menurunkan produktivitas, dan meningkatkan konflik.
Pada sisi lain, tindakan pengemudi Innova menunjukkan kurangnya kecerdasan emosi. Kecerdasan emosi adalah kemampuan untuk mengenali, memahami, dan mengelola emosi diri sendiri serta orang lain secara efektif.
Salah satu komponen utama kecerdasan emosi adalah kesadaran sosial, yang mencakup kemampuan untuk berempati dan memahami dinamika sosial. Pengemudi Innova tampaknya tidak memiliki kesadaran sosial ini. Ia gagal mengenali urgensi situasi yang dihadapi oleh ambulans, yang ditandai dengan sirene menyala, dan tidak berempati terhadap pasien dalam kondisi kritis.
Akibatnya, ia tidak mengambil tindakan yang seharusnya, yaitu memberi jalan. Kurangnya kecerdasan emosi pada pengemudi Innova ini tidak hanya membahayakan nyawa, tetapi juga memicu kemarahan publik yang menganggap tindakannya sebagai ketidakpedulian terhadap nyawa orang lain.
Insiden ini bukan hanya soal pelanggaran lalu lintas, tetapi juga merupakan studi kasus tentang interaksi manusia yang didasari oleh emosi dan kecerdasan emosi. Emosi sopir ambulans adalah reaksi terhadap situasi yang mengancam, sementara tindakan pengemudi Innova mencerminkan ketidakmampuan berempati.
Peristiwa ini menggarisbawahi pentingnya manajemen emosi, baik secara individu maupun dalam masyarakat.
Bagi individu, insiden ini menjadi pengingat tentang pentingnya kesadaran diri dan pengelolaan diri.
Kemudian untuk masyarakat, ini adalah pelajaran tentang pentingnya kesadaran sosial dan empati dalam interaksi sehari-hari. Kesuksesan sebuah komunitas tidak hanya bergantung pada aturan, tetapi juga pada kemampuan setiap individu untuk mengelola emosi dan menunjukkan empati terhadap orang lain.***
Editor : Rommy Mochamad Ramdhani