Dopamin Instan dari Video Pendek : Bahaya Tersembunyi bagi Kesehatan Mental Mahasiswa
Keterangan Gambar : konten video pendek dapat memberi efek dopamin cepat namun berpotensi menimbulkan dampak negatif bagi mental mahasiswa (sumber gambar : canva)
Penulis: Mokhammad Fahim Imanudin
S2MI - Mahasiswa pada era digital menerima banjir konten dari berbagai platform sosial media. Kebiasaan ini membuat mereka semakin sering menonton video pendek setiap hari.
Video pendek memberikan rangsangan cepat yang menghasilkan lonjakan dopamin instan di otak. Rangsangan ini membuat mahasiswa merasa senang secara sementara.
Otak mahasiswa kemudian terbiasa mencari sensasi cepat dari konten yang serba instan. Kebiasaan ini dapat menurunkan kemampuan mereka untuk menikmati aktivitas yang membutuhkan fokus panjang.
Lonjakan dopamin yang berulang membuat otak perlahan kehilangan sensitivitas alaminya. Kondisi tersebut menyebabkan mahasiswa membutuhkan tontonan yang semakin banyak untuk merasakan efek yang sama.
Algoritma platform seperti TikTok, Instagram Reels, dan Facebook Shorts secara aktif mendorong mahasiswa untuk terus menonton. Algoritma ini memilih video yang paling memicu rasa penasaran dan emosi.
Mahasiswa sering tidak menyadari bahwa perilaku scroll tanpa henti sebenarnya memicu pola konsumsi pasif. Pola ini dapat mengurangi waktu produktif dan memengaruhi kualitas belajar mereka.
Video pendek juga memengaruhi kemampuan mahasiswa dalam mempertahankan fokus jangka panjang. Otak yang terlalu sering menerima rangsangan cepat menjadi sulit untuk berkonsentrasi pada tugas kompleks.
Konsumsi video pendek yang berlebihan dapat menurunkan motivasi mahasiswa dalam menyelesaikan pekerjaan. Mereka cenderung menunda tugas karena lebih memilih hiburan instan.
Fenomena ini menciptakan lingkaran kebiasaan yang semakin sulit dihentikan. Mahasiswa yang merasa stres justru mencari pelarian melalui video pendek, yang akhirnya memperburuk stres itu sendiri.
Konten yang bersifat cepat dan memikat sering kali menghilangkan standar pemikiran kritis. Mahasiswa akhirnya belajar secara dangkal karena terbiasa menerima informasi yang sudah diringkas.
Emosi mahasiswa juga dapat terdampak ketika mereka terus membandingkan diri dengan konten visual yang tidak realistis. Hal ini dapat memicu rasa cemas dan menurunkan kepercayaan diri mereka.
Kemunculan highlight reels pada video pendek membuat mahasiswa menilai hidupnya lebih buruk daripada orang lain. Penilaian ini sangat merugikan kesehatan mental mereka.
Pola tidur mahasiswa ikut terganggu karena kebiasaan menonton video pendek hingga larut malam. Gangguan tidur ini dapat mempengaruhi suasana hati dan daya ingat mereka.
Tidur yang tidak berkualitas menyebabkan mahasiswa lebih mudah merasa lelah sepanjang hari. Kondisi ini membuat mereka semakin sulit mengatur emosi.
Ketergantungan pada video pendek berpotensi memicu gejala seperti kecemasan, stres, dan penurunan minat belajar. Mahasiswa yang terdampak sering merasa sulit mengontrol kebiasaannya.
Perubahan perilaku ini dapat memengaruhi hubungan sosial mahasiswa. Mereka menjadi lebih tertarik dengan dunia digital daripada interaksi nyata.
Dosen dan kampus perlu mengedukasi mahasiswa tentang bahaya konsumsi video pendek yang berlebihan. Edukasi ini dapat membantu mahasiswa mengatur kembali keseimbangan hidup mereka.
Mahasiswa dapat mulai mengurangi durasi menonton dengan menggunakan fitur screen time. Fitur ini membantu mereka menyadari seberapa banyak waktu yang sudah dihabiskan.
Aktivitas seperti membaca, berolahraga, atau mengobrol dapat menjadi alternatif yang lebih sehat. Aktivitas ini membantu otak kembali merasakan kepuasan alami tanpa stimulasi instan.
Dengan memahami bahaya dopamin instan, mahasiswa dapat mengambil langkah untuk menjaga kesehatan mental mereka. Kesadaran ini sangat penting agar mereka tetap fokus, produktif, dan seimbang dalam kehidupan sehari-hari.***
Editor : Rommy Mochamad Ramdhani