Dari Reog ke Dunia Digital: Malang dan Ponorogo Jadi Kota Kreatif Dunia

Reog Ponorogo yang dibawakan oleh seniman Reog dari Ponorogo tampil di markas besar UNESCO pada 14 Oktober 2025, saat pelaksanaan sidang Executive Board UNESCO. (Sumber: Satrya Wibawa)
Penulis : Nur
S2MI - Paris, 31 Oktober 2025. Kabar baik untuk Indonesia di akhir bulan Oktober 2025 datang dari Paris. Dalam peringatan World Cities Day 2025. Direktur Jenderal UNESCO Audrey Azoulay mengumumkan 58 kota baru yang bergabung ke dalam UNESCO Creative Cities Network (UCCN). Dua di antaranya berasal dari Indonesia: Ponorogo sebagai Kota Kreatif bidang Crafts and Folk Art dan Malang sebagai Kota Kreatif bidang Media Arts.
Dengan penetapan ini, Indonesia kini memiliki tujuh kota kreatif UNESCO, menegaskan posisi Tanah Air sebagai salah satu negara di Asia dengan portofolio bidang kreatif paling beragam, mulai dari kriya, seni rakyat, desain, musik, sastra, hingga seni media digital.
“Penambahan Ponorogo dan Malang menegaskan bahwa ekosistem kreatif Indonesia tumbuh tidak hanya di kota-kota besar, tetapi juga di wilayah dengan akar budaya kuat dan inovasi digital yang dinamis,” ujar Satrya Wibawa, Wakil Delegasi Tetap Republik Indonesia untuk UNESCO di Paris.
Ia menekankan bahwa status kota kreatif bukanlah sekadar gelar simbolis, melainkan “mandat untuk memperkuat kerja sama internasional melalui program, festival, riset, dan jejaring kreatif.”
Penetapan Ponorogo di bidang Crafts and Folk Art menyoroti kekayaan budaya tradisional Indonesia. Tradisi Reog Ponorogo, kerajinan rakyat, serta ekosistem pelaku seni lokal menjadi pilar utama yang mengangkat Ponorogo ke panggung global. Kota ini kini bergabung dengan jejaring kota dunia yang memajukan kriya dan seni rakyat sebagai motor pembangunan berkelanjutan.
Sementara itu, Malang mendapat pengakuan internasional di bidang Media Arts. Kota ini dinilai memiliki ekosistem kreatif yang berkembang pesat, terutama dalam sektor gim, animasi, digital storytelling, serta kehadiran komunitas makerspace dan dukungan kuat dari universitas serta pelaku industri kreatif muda di Jawa Timur.
Dengan status baru ini, Malang berkesempatan menjalin kolaborasi global dengan kota-kota kreatif lain seperti Changsha (Tiongkok) dan Gwangju (Korea Selatan).
Jejaring Kota Kreatif Indonesia Semakin Kuat
Sebelum 2025, Indonesia telah memiliki lima kota dalam jaringan UCCN: Pekalongan (Crafts and Folk Art, 2014), Bandung (Design, 2015), Ambon (Music, 2019), Jakarta (Literature, 2021), Surakarta/Solo (Crafts and Folk Art, 2023).
Dengan bergabungnya Ponorogo dan Malang, total menjadi tujuh kota kreatif, memperkuat posisi Indonesia dalam jaringan global yang kini beranggotakan 408 kota dari lebih 100 negara. Tahun ini pula, UNESCO memperkenalkan kategori baru –Architecture- yang menandai perluasan cakupan bidang kreatif sesuai dinamika pembangunan perkotaan masa kini.
Satrya Wibawa menegaskan pentingnya langkah konkret pasca penetapan ini. “Pemerintah kota bersama kementerian dan pemangku kepentingan terkait perlu segera melaksanakan rencana aksi empat tahun untuk Ponorogo dan Malang sesuai pedoman UCCN,” ujarnya.
Ia juga mendorong terbentuknya Cluster Indonesia Creative Cities di bawah koordinasi UNESCO agar kerja sama antar kota kreatif Indonesia semakin solid. Kebanggaan ini turut dirayakan dengan penampilan Reog Ponorogo di markas besar UNESCO pada 14 Oktober 2025, saat berlangsungnya Sidang Executive Board UNESCO. Pertunjukan tersebut menjadi simbol bahwa warisan budaya lokal Indonesia kini benar-benar telah menari di panggung dunia.***
Editor : Rommy Mochamad Ramdhani