Cara Mengenali Cyberbullying dan Cara Melindungi Diri di Dunia Maya Bagi Mahasiswa
Keterangan gambar : Ilustrasi komentar negatif di media sosial yang mencerminkan bentuk cyberbullying yang kerap terjadi pada mahasiswa (sumber : canva)
Penulis : Anisa Dini Septianda
S2MI - Dalam kehidupan mahasiswa yang serba terhubung, ruang digital menjadi tempat melakukan berbagai aktivitas. Namun, di balik kemudahannya, dunia maya juga menghadirkan sisi gelap yang tidak selalu disadari, seperti munculnya komentar negatif, ejekan, dan serangan verbal yang dapat memengaruhi kondisi psikologis seseorang.
Interaksi berbasis layar sering membuat orang merasa bebas mengekspresikan apa pun tanpa mempertimbangkan dampaknya, sehingga cyberbullying menjadi fenomena yang semakin signifikan bahkan di kalangan mahasiswa.
Ironisnya, masih banyak mahasiswa yang beranggapan bahwa komentar yang “sekadar bercanda” tidak membawa dampak serius, padahal bagi korban, tindakan itu dapat meninggalkan luka psikologis yang mendalam.
Cyberbullying sendiri merupakan tindakan menyakiti atau merendahkan orang lain melalui media digital. Berbeda dengan perundungan langsung, cyberbullying dapat muncul kapan saja dan menyebar dengan cepat, menjadikannya lebih sulit dikendalikan karena jejak digital sulit ditebak akan mengarah kemana saja.
Di kalangan mahasiswa, bentuk-bentuk cyberbullying muncul dalam berbagai rupa. Seperti komentar merendahkan, body shaming, sindiran yang viral, hingga penyebaran foto atau informasi pribadi tanpa izin merupakan contoh yang cukup umum terjadi.
Dinamika pergaulan kampus yang kompetitif dan penuh tekanan juga sering membuat seseorang menjadi target gosip ataupun bahan lelucon di ruang maya. Fenomena ini tidak hanya terjadi di media sosial terbuka, tetapi juga dalam grup pertemanan, diskusi kelas daring, dan platform komunikasi kampus lainnya.
Dampak cyberbullying terhadap mahasiswa tidak dapat dianggap remeh. Serangan yang terus-menerus dapat menimbulkan kecemasan, stres berkepanjangan, dan penurunan rasa percaya diri.
Dalam kasus yang lebih berat, cyberbullying bahkan dapat memengaruhi performa akademik dan membuat korban menarik diri dari lingkungan pergaulan, baik di dunia nyata maupun digital. Meskipun begitu, ada berbagai cara yang dapat dilakukan mahasiswa untuk melindungi diri di dunia maya.
Mengatur privasi akun merupakan langkah awal yang penting untuk membatasi akses orang asing terhadap informasi pribadi. Menghindari interaksi dengan akun yang tidak sehat, memanfaatkan fitur pemblokiran atau pelaporan, serta menyimpan bukti saat terjadi perundungan akan sangat membantu ketika situasi menjadi lebih serius.
Lingkungan sosial juga memegang peran besar dalam upaya mencegah cyberbullying. Teman sebaya memiliki pengaruh yang kuat, sehingga bersikap kritis terhadap konten negatif dan tidak ikut menyebarkan komentar merugikan dapat membantu menciptakan ruang digital yang lebih aman.
Kampus juga berperan penting dengan menyediakan layanan konseling dan mekanisme pelaporan ketika ada mahasiswa yang mengalami perundungan.
Dukungan seperti ini memberi rasa aman bagi korban sekaligus mengingatkan pelaku bahwa tindakan mereka memiliki konsekuensi. Pada akhirnya, cyberbullying adalah tantangan nyata yang dapat menimpa siapa saja, terutama mahasiswa yang aktif di dunia digital.
Memahami bentuk-bentuknya, dampaknya, serta cara melindungi diri menjadi langkah penting agar ruang maya tetap menjadi tempat yang sehat untuk belajar dan berkembang.
Dengan kesadaran yang tinggi dan budaya interaksi yang lebih bertanggung jawab, mahasiswa dapat membangun lingkungan digital yang lebih aman, suportif, dan beretika. ***
Editor : Rommy Mochamad Ramdhani