Cara Berpikir Kritis Dalam Menghadapi Hoaks
Keterangan gambar : Ruang digital perlu menjadi ruang yang mencerdaskan generasi (sumber gambar : Kementerian Komunikasi dan Digital RI)
Penulis : Azzahra Cahya Setyani Wafa Aribah
S2MI - Pada era revolusi industri 4.0 yang kini telah beranjak menuju society 5.0, akses terhadap informasi telah menjadi kebutuhan primer yang setara dengan kebutuhan fisik dasar.
Internet telah memperluas pengetahuan, namun pada saat yang sama menciptakan fenomena yakni banjir informasi atau information overload.
Dalam ekosistem digital yang begitu padat banyak sekali diantara fakta, opini, dan manipulasi yang datang secara cepat. Fenomena ini sering disebut sebagai era post truth, di mana kebenaran objektif seringkali kalah dikarenakan pengaruhnya dibandingkan dengan daya tarik emosional atau keyakinan pribadi.
Mahasiswa sebagai bagian dari elemen utama dalam akademis dan kelompok digital native memegang penuh strategi dalam dinamika ini.
Mereka tidak hanya berperan sebagai konsumen informasi tetapi juga sebagai penyebar, dan juga produsen konten. Namun, asumsi bahwa generasi muda secara otomatis memiliki literasi digital yang tinggi seringkali keliru.
Keterampilan operasional terhadap perangkat digital belum tentu diimbangi oleh kemampuan kognitif dalam memverifikasi informasi. Penyebaran hoax atau berita bohong bukan sekedar masalah teknis namun masalah psikososial yang serius.
Hoax berpotensi untuk memecahkan keterikatan sosial, memicu kepanikan publik, hingga menggerus kualitas demokrasi. Oleh karena itu, kemampuan berpikir kritis bukan lagi sekedar pelengkap, tetapi kompetensi inti yang harus dimiliki oleh seluruh mahasiswa untuk menavigasi lautan informasi digital secara etis dan bertanggung jawab.
Literasi digital dan psikologi hoax
Literasi digital sering disalah artikan hanya sebagai kemampuan mengoperasikan perangkat lunak atau perangkat keras. Padahal menurut Japelidi (Jaringan Pegiat Literasi Digital Indonesia) literasi digital mencakup 4 pilar utama yakni kecakapan digital, etika digital, budaya digital, dan keamanan digital.
Dalam konteks akademik literasi digital menuntut seluruh mahasiswa untuk memiliki kemampuan menelaah dan merangkai informasi dengan kata lain kemampuan untuk tidak hanya membaca teks namun membaca konteks dibalik teks tersebut.
Salah satu tantangan terbesar dalam melawan hoax adalah adanya jebakan psikologis yang disebut confirmation bias atau bias konfirmasi. Jika digali lebih lanjut makna dari confirmation bias adalah kecenderungan manusia untuk mencari, menafsirkan, dan mengingat informasi yang sesuai dengan keyakinan yang sudah mereka miliki sebelumnya.
Algoritma media sosial memperparah hal ini dengan adanya echo chambers atau ruang gema, yang dimana pengguna hanya dihadapkan pada informasiyang seragam serta menyetujui pandangan mereka sehingga menutup ruang bagi pemikiran kritis.
Selain confirmation bias, hoax seringkali dirancang guna memanfaatkan emosi pembacanya. Judul yang provokatif, penggunaan huruf kapital yang berlebihan, dan narasi yang cenderung memicu amarah serta ketakutan merupakan ciri khas dari disinformasi.
Ketika emosi seseorang terpancing fungsi rasional otak cenderung menurun hingga membuat individu lebih rentan untuk langsung membagikan informasi tersebut tanpa melakukan verifikasi atau pengecekan lebih lanjut.
Mahasiswa sangat perlu menyadari mekanisme psikologi ini agar dapat mengambil jarak emosional sebelum bereaksi dalam menangkap sebuah informasi.
Implementasi Berpikir Kritis
Berpikir kritis dalam menghadapi hoax dimulai dengan sikap skeptisisme yang sehat. Skeptis disini mengarah pada hal menunda kepercayaan sampai menemukan bukti yang memadai atau terverifikasi.
Mahasiswa harus melatih diri sendiri untuk selalu mengajukan pertanyaan fundamental seperti “siapa yang menulis ini?", "apa motif dibalik tulisan ini?" dan "apakah ada bukti yang mendukung klaim ini?".
Metode lateral reading atau membaca secara lateral merupakan teknik verifikasi yang sangat disarankan dalam literasi digital secara akademis. Berbeda dengan membaca vertikal atau membaca satu halaman dari atas ke bawah namun lateral reading mengharuskan pembaca untuk membuka tab baru pada peramban dan mencari tahu mengenai sumber informasi tersebut di situs web lain.
Teknik ini digunakan oleh pemeriksa fakta profesional dalam menilai kredibilitas sumber sebelum membaca isi konten secara mendalam.
Validasi sumber juga mencakup memeriksa domain situs web. Situs web yangkredibel biasanya menggunakan domain standar serta memiliki bentuk penyajian redaksi yang jelas dan alamat kantor yang dapat diverifikasi.
Mahasiswa harus waspada terhadap situs abal-abal yang meniru tampilan portal berita resmi namun menggunakan alamat url yang sedikit diplesetkan (Typosquatting) atau menggunakan domain blog gratisan untuk menyebarkan berita yang serius.
Mahasiswa perlu memeriksa ketepatan konteks waktu dan gambar. Sering kali hoax berupa fakta yang didaur ulang yakni berita lama atau foto dari kejadian masa lampau yang disebarkan kembali dengan narasi baru yang cukup menyesatkan.
Penggunaan alat bantu seperti Google reverse image search atau yandex image menjadi kunci dalam menelusuri latar belakang dari asal usul foto serta memastikan bahwa visual tersebut tidak dimanipulasi atau ditempatkan di luar konteks aslinya.
Peran Mahasiswa
Kemampuan berpikir kritis harus dibarengi dengan etika digital. Ada pepatah yang cukup populer yakni “saring sebelum sharing” yang harus menjadi pegangan bagi setiap mahasiswa.
Sebelum menekan tombol bagikan, mahasiswa perlu melakukan evaluasi dampak yakni “apakah informasi ini bermanfaat?”, “apakah informasi ini valid?”, “apakah menyebarkannya akan merugikan pihak lain?”, integritas akademis mahasiswa diuji disini menyebarkan informasi tanpa verifikasi sama buruknya dengan melakukan plagiasi tugas dalam kuliah.
Selain menjaga diri sendiri, mahasiswa memiliki tanggung jawab besar padakehidupan sosial sebagai agen perubahan (agent of change). Mereka diharapkan mampu menjadi pendorong perilaku di lingkungan mereka, baik pada lingkungan keluarga maupun pada lingkungan pertemanan.
Ketika menemukan hoax pada grup keluarga atau pada media sosial mahasiswa perlu meluruskan informasi tersebut dengan cara penyampaian yang santun serta berbasis data bukan dengan cara menggurui yang justru memicu penolakan.
Pemanfaatan situs-situs pengecekan fakta seperti TurnBackHoax.id, CekFakta.com, atau laman resmi kementerian kominfo harus menjadi sebuah kebiasaan baru.
Mahasiswa perlu menjadikan verifikasi sebagai prosedur standar operasional pribadi dalam mengkonsumsi sebuah informasi. Mengutip Data dari sumber sekunder yang dipercaya adalah ciri khas tradisi ilmiah yang harus dibawa ke dalam aktivitas bermedia sosial sehari-hari.
Pada kesimpulan kemampuan berpikir kritis merupakan perisai yang paling ampuh dalam menghadapi gempuran hoax pada era digital. Literasi digital untuk mahasiswa tidak boleh berhenti pada level teknis tetapi harus naik pada level kognitif dan etis.
Dengan memahami bias kognitif pada diri sendiri, menerapkan metode verifikasi seperti lateral reading, dan memegang teguh etika komunikasi, mahasiswa dapat mematahkan rantai penyebaran disinformasi.
Perjuangan melawan hoax dibutuhkan konsistensi dan kesadaran kolektif bukan aksi singkat. Sebagai kaum intelektual muda, mahasiswa memikul harapan untuk selalu menjaga kewarasan publik dan memastikan bahwa kebenaran tetap menjadi landasan utama dalam interaksi sosial dan kehidupan berbangsa.
Mari kita jadikan ruang digital sebagai ruang yang mencerdaskan generasi bukan membodohi***
Kemampuan berpikir kritis harus dibarengi dengan etika digital. Ada pepatah yang cukup populer yakni “saring sebelum sharing” yang harus menjadi pegangan bagi setiap mahasiswa.
Editor : Rommy Mochamad Ramdhani