Anatomi Big Data Google Memanfaatkan Trends untuk Memprediksi Pasar Baru
Keterangan foto :Anatomi Big Data Google Memanfaatkan Trends untuk Memprediksi Pasar Baru
Penulis : Rommy Mochamad Ramdhani
S2MI - Ekosistem google merupakan rangkaian alat terpadu yang dirancang untuk meningkatkan literasi digital dan produktivitas, baik di lingkungan akademik maupun profesional.
Inti dari ekosistem ini adalah kemampuan untuk mengumpulkan, menganalisis, dan memanfaatkan data secara masif, yang berasal dari triliunan kueri yang diproses oleh google search.
Di balik fungsi pencarian harian, tersimpanlah sebuah "produk data" bernilai tinggi, yaitu google trends. Alat ini menawarkan jendela untuk melihat minat publik secara real time, menjadikannya instrumen krusial bagi peneliti dan pelaku industri untuk memvalidasi ide atau mengidentifikasi topik yang sedang "hangat".
Dalam konteks bisnis dan inovasi produk, pemahaman tren pasar adalah kunci. Mari kita ambil contoh industri makanan nabati (plant based food) di Indonesia antara tahun 2018 hingga 2021.
Sebuah perusahaan makanan berupaya meluncurkan produk pengganti daging, namun dihadapkan pada pertanyaan strategis mengenai bahan baku dan metode pemasaran yang paling prospektif. Untuk menghindari spekulasi, perusahaan ini memanfaatkan google trends sebagai basis pengambilan keputusan yang solid.
Analisis data dilakukan terhadap empat istilah utama: "Tempe," "Tahu," "Oat Milk," dan "Daging Vegan." Pemilihan istilah ini mewakili spektrum dari makanan tradisional dengan volume pencarian tinggi ("Tempe," "Tahu") hingga kategori yang relatif baru dengan potensi pertumbuhan signifikan ("Oat Milk," "Daging Vegan"). Peran google trends di sini adalah mengukur pertumbuhan minat, bukan sekadar volume absolut, yang membedakan pasar stabil dari pasar yang sedang mengalami lonjakan. Hasil data menunjukkan perbandingan yang mencolok. Meskipun "Tempe" dan "Tahu" memiliki volume pencarian rata-rata yang tinggi, angka tersebut cenderung stagnan atau hanya meningkat tipis pada tahun 2021.
Sebaliknya, istilah "Oat Milk" yang awalnya hanya memiliki rata-rata 15, melonjak eksplosif hingga 90 pada puncaknya, mengindikasikan munculnya pasar niche yang siap menyerap produk premium.
Berangkat dari temuan data tersebut, perusahaan mengambil keputusan strategis pertama terkait fokus produk. Lonjakan minat terhadap "Oat Milk" menjadi sinyal kuat untuk mengarahkan sumber daya.
Prioritas produksi dialihkan dari upaya keras bersaing di pasar meat substitute umum menuju pengembangan lini susu nabati, sebab tren ini menjanjikan tingkat pertumbuhan yang tinggi, mengalahkan kategori yang lebih mapan.
Keputusan strategis kedua menyangkut penargetan geografis dan distribusi. Analisis geo tren pada "Oat Milk" memperlihatkan popularitas yang terkonsentrasi di kota-kota metropolitan besar, seperti Jakarta, Bali, dan Bandung.
Informasi ini sangat vital. Alih-alih melakukan distribusi massal yang mahal, perusahaan memfokuskan saluran distribusinya pada supermarket premium dan kafe di lokasi-lokasi tersebut, tempat konsumen awal yang bersedia membayar harga lebih tinggi berada.
Penguasaan google trends dan integrasi ekosistem google lainnya sangat krusial bagi akademisi dan profesional untuk membuat keputusan berbasis data, beralih dari intuisi, dan mencapai pertumbuhan produktivitas yang terukur.***
Editor : Rommy Mochamad Ramdhani