Tingkatkan Kualitas Publikasi Global, S2 Manajemen Inovasi UNESA Gelar Coaching Clinic Manuscript Tembus Scopus dan SINTA 2
Keterangan gambar : Antusiasme mahasiswa S2 Manajemen Inovasi Sekolah Pascasarjana UNESA dalam mengikuti Coaching Clinic Manuscript Tembus Scopus dan SINTA 2.
Penulis : Rommy Mochamad Ramdhani
S2MI - Dalam rangka memperkuat ekosistem akademik dan memacu produktivitas publikasi ilmiah bertaraf internasional, Program Studi S2 Manajemen Inovasi Sekolah Pascasarjana Universitas Negeri Surabaya (UNESA) menyelenggarakan Coaching Clinic Manuscript Tembus Scopus dan SINTA 2. Kegiatan intensif ini berlangsung selama dua hari, yakni pada tanggal 3 dan 4 Juni 2026.
Acara ini menghadirkan dua pakar yang memiliki rekam jejak impresif dalam publikasi ilmiah internasional, yaitu Dr. Warju, S.Pd., S.T., M.T. dan Dr. (c) Sudirman Rizki Ariyanto, M.Pd., M.T. Keduanya merupakan dosen UNESA yang aktif menelurkan riset-riset bereputasi tinggi.
Membedah Anatomi "State of The Art" dan Struktur IMRAD di hadapan para mahasiswa S2 Manajemen Inovasi, Dr. Warju menekankan pentingnya menemukan State of the Art (SOTA) atau titik kemutakhiran dalam sebuah artikel ilmiah. SOTA ibarat rekor dunia dalam lomba lari; peneliti harus mengetahui posisi rekor saat ini untuk kemudian mencoba memecahkannya melalui kebaruan yang ditawarkan.
"Menentukan State of the Art itu harus merujuk pada tiga parameter utama, yaitu Contribution, Originality, dan Novelty," papar Dr. Warju. Beliau juga membedakan tingkatan kontribusi ilmiah ini berdasarkan jenjang studi. Level sarjana (S1) dapat berfokus pada kontribusi pengaplikasian atau modifikasi metode yang sudah ada. Sedangkan untuk level magister (S2) wajib mengejar originality (orisinalitas) seperti pengembangan metodologi atau aplikasi original, serta novelty (keterbaruan) yang mampu membawa dampak teoritis maupun praktis pada disiplin ilmu terkait.
Selain membedah SOTA, peserta juga dibimbing secara detail mengenai anatomi artikel standar internasional yang mengikuti format IMRAD (Introduction, Methods, Results, and Discussion), ditunjang dengan struktur Title, Abstract, dan Conclusion.
Salah satu daya tarik utama dalam coaching clinic ini adalah materi mengenai pemanfaatan teknologi Artificial Intelligence (AI) dalam mempercepat dan meningkatkan kualitas penulisan artikel ilmiah. Dr. (c) Sudirman Rizki Ariyanto memaparkan peta jalan pengintegrasian AI ke dalam empat tahapan menulis: Brainstorming, Outline, Drafting, hingga Editing.

Berbagai aplikasi AI diperkenalkan sesuai fungsinya untuk membantu para mahasiswa. Meski demikian, Dr. (c) Sudirman memberikan catatan tegas mengenai etika akademis. "AI harus diposisikan sebagai asisten teknis, bukan penulis utama. Penggunaan AI untuk menghasilkan konten penuh tanpa editing manusia adalah pelanggaran etika. AI pun tidak boleh dicantumkan sebagai penulis," tegasnya.
Untuk memberikan gambaran riil, narasumber membedah langsung contoh artikel ilmiah milik mereka yang sukses menembus jurnal bereputasi. Melalui contoh nyata tersebut, peserta diberikan tips taktis agar artikel mereka dilirik oleh pengelola jurnal.
Sesi akhir kegiatan ditutup dengan pengingat pentingnya menjaga integritas moral peneliti. Peserta diingatkan untuk menjauhi praktik buruk seperti falsifikasi data, pengubahan data, penggunaan data fiktif, hingga self-plagiarism (menggunakan tulisan sendiri yang sama di artikel berbeda). Penulis wajib menguasai teknik parafrase yang baik guna menghindari jebakan plagiarisme sebelum memeriksa artikel mereka di platform penapis seperti iThenticate.
Melalui coaching clinic yang padat dan komprehensif ini, Program Studi S2 Manajemen Inovasi UNESA berharap para mahasiswa magister dapat segera merampungkan manuscript berkualitas tinggi, percaya diri mengirimkannya ke jurnal terindeks Scopus maupun SINTA 2, serta berkontribusi nyata bagi pengembangan ilmu pengetahuan demi mewujudkan pilar DIKTISAINTEK BERDAMPAK.***
Editor : Rommy Mochamad Ramdhani