Manajemen Inovasi dalam Konservasi Maritim: Kisah SeeShark dari Banyuwangi
Penulis : Nursalim
Manajemen inovasi tidak hanya berlaku bagi korporasi besar atau sektor industri maju, tetapi juga dapat tumbuh dari desa pesisir dengan semangat kemandirian dan keberlanjutan. Munculnya teknologi bukan hanya dimaknai sebagai hasil kemajuan industri, tetapi juga sebagai instrumen penyelamat ekologi.
Inovasi yang lahir dari kebutuhan sosial dan lingkungan sering kali menunjukkan bagaimana kreativitas manusia mampu menjembatani krisis keberlanjutan.
Salah satu contoh inspiratif datang dari Banyuwangi, di mana seorang pemuda bernama Oka Bayu Pratama mengembangkan aplikasi berbasis kecerdasan buatan (AI) bernama SeeShark, untuk mengidentifikasi spesies hiu secara cepat dan akurat.
Inovasi ini tidak hanya menunjukkan kecanggihan teknologi, tetapi juga menggambarkan bagaimana manajemen inovasi diterapkan secara nyata di tingkat akar rumput untuk menjawab persoalan konservasi laut Indonesia.
Indonesia dikenal sebagai negara dengan keanekaragaman hiu tertinggi di dunia, namun juga memiliki reputasi ironis sebagai penangkap hiu terbesar secara global. Volume tangkapan mencapai 110.000 ton per tahun telah menempatkan populasi hiu pada kondisi kritis.
Masalah utama dalam konservasi bukan hanya soal eksploitasi, tetapi juga lemahnya identifikasi spesies di lapangan. Di banyak pelabuhan pendaratan seperti Muncar dan Lamongan, petugas enumerator seringkali kesulitan mengidentifikasi spesies karena kondisi fisik hiu yang sudah terpotong. Kekeliruan ini berujung pada bias data yang melemahkan kebijakan konservasi nasional.
Kondisi inilah yang menjadi titik awal inovasi SeeShark. Dalam terminologi manajemen inovasi, situasi tersebut dikenal sebagai problem driven innovation - inovasi yang muncul bukan karena dorongan pasar, melainkan sebagai jawaban terhadap masalah sistemik.
Oka Bayu melihat krisis identifikasi sebagai “titik buta” dalam manajemen data konservasi, dan dengan keahliannya di bidang AI dan IoT, ia merancang solusi yang mampu menutup celah tersebut.
Manajemen Proses Inovasi dan Pendanaan Mandiri
Penerapan manajemen inovasi tampak jelas dari cara SeeShark dikembangkan. Oka Bayu menjalankan prinsip resource based innovation management, yaitu mengelola sumber daya yang tersedia secara optimal.
Tanpa dukungan modal besar, ia memanfaatkan hasil usaha budidaya lele untuk membiayai penelitian dan pengumpulan data lapangan. Langkah ini menunjukkan penerapan bootstrapping strategy - strategi pembiayaan mandiri yang umum digunakan dalam inovasi berbasis kewirausahaan sosial.
Tahapan inovasi SeeShark juga menunjukkan manajemen proses yang sistematis: mulai dari riset lapangan, pengumpulan data gambar hiu, pelatihan model AI berbasis deep learning, hingga uji coba lapangan di tiga pelabuhan utama.
Aplikasi ini kini mampu mengenali 10 spesies hiu paling rentan dengan akurasi hingga 95,3%. Keberhasilan ini menunjukkan bahwa inovasi konservasi pun membutuhkan manajemen berbasis data dan pengujian empiris, bukan sekadar ide idealis.
Manajemen inovasi yang efektif tidak hanya fokus pada penciptaan produk baru, tetapi juga pada nilai sosial (social value creation) dan keberlanjutan. Melalui organisasi kepemudaan Garda Lestari, Oka dan timnya menerapkan filosofi “Kelestarian Sejati Dimulai dari Kesejahteraan.”
Pendekatan ini menegaskan bahwa inovasi harus memihak pada kesejahteraan masyarakat, bukan sekadar melindungi alam secara sepihak. Dengan memberikan alat bantu identifikasi kepada petugas dan nelayan, SeeShark memperkuat posisi mereka dalam rantai pengelolaan sumber daya laut yang adil dan berkelanjutan.
Selain itu, manajemen kolaborasi juga menjadi kunci keberhasilan. Validasi teknis dari BRIN serta perolehan dua hak cipta dan satu permohonan paten menunjukkan adanya sinergi antara inovator muda, lembaga riset, dan negara. Model kolaboratif seperti ini merupakan salah satu elemen utama dalam open innovation management, di mana ide dan teknologi dikembangkan melalui jaringan lintas sektor.
Keberhasilan SeeShark menembus 10 besar finalis SATU Indonesia Awards 2025 menjadi bukti bahwa inovasi dari daerah dapat berkontribusi signifikan terhadap pembangunan nasional. Dalam perspektif manajemen inovasi, kisah ini memperlihatkan tiga pelajaran penting.
Pertama, inovasi lahir dari empati dan observasi sosial, bukan hanya dari laboratorium. Kedua, manajemen sumber daya terbatas dapat menghasilkan dampak besar bila diarahkan dengan strategi yang tepat. Ketiga, inovasi berkelanjutan memerlukan keseimbangan antara kepentingan ekonomi dan ekologi. (*Penulis adalah Mahasiswa Pasca Sarjana S2 Manajemen Inovasi, Unesa).
Editor : Rommy Mochamad Ramdhani