Curah Hujan Tinggi Melanda, Bagaimana Civitas Akademika Menyikapinya dengan Langkah Mitigasi Cerdas?
Keterangan gambar : Langkah Mitigasi Cerdas Civitas Akademika Dalam Menyikapi Hujan Deras
Penulis : Rommy Mochamad Ramdhani
S2MI - Fenomena hujan deras yang turun secara intensif dan tidak menentu dalam beberapa hari terakhir telah menimbulkan keresahan mendalam bagi masyarakat luas. Curah hujan yang tinggi sering kali memicu hambatan mobilitas harian serta potensi genangan air di berbagai sudut akses jalan raya menuju pusat aktivitas. Kondisi cuaca yang tidak menentu ini menuntut kesiapan dan kewaspadaan ekstra dari seluruh lapisan masyarakat, tidak terkecuali bagi warga di lingkungan perguruan tinggi.
Bagi masyarakat kampus, gangguan hidrometeorologi ini kerap menimbulkan kecemasan terkait kelancaran agenda akademik yang telah dijadwalkan secara ketat. Hambatan transportasi akibat banjir lokal, risiko pakaian basah kuyup, hingga potensi penurunan kondisi kesehatan fisik menjadi tantangan nyata yang harus dihadapi setiap pagi. Oleh karena itu, civitas akademika perlu menyusun strategi adaptasi yang cerdas agar produktivitas intelektual tidak ikut surut bersama derasnya air hujan.
Keresahan kolektif terhadap perubahan cuaca yang ekstrem ini sejatinya dapat dijadikan momentum penting bagi warga kampus untuk merefleksikan isu global. Tindakan responsif dan mitigasi yang dilakukan oleh insan akademis dalam menghadapi hujan deras ini berkaitan erat dengan urgensi SDG 13. Sudut pandang ini menekankan pentingnya mengambil tindakan cepat dan nyata untuk meminimalkan dampak buruk dari perubahan iklim (climate change).
Dalam kacamata SDG 13, civitas akademika dapat memulainya dengan membangun sistem peringatan dini (early warning) secara mandiri melalui pemanfaatan aplikasi pemantau cuaca. Sebelum memutuskan untuk berangkat menuju kampus, mahasiswa dan dosen disarankan untuk memeriksa radar pergerakan awan guna memetakan rute perjalanan yang lebih aman. Antisipasi dini ini sangat krusial untuk menekan risiko terjebak kemacetan parah atau genangan air yang tinggi di tengah jalan.
Langkah taktis berikutnya yang dapat diimplementasikan adalah optimalisasi konsep pembelajaran bauran (hybrid learning) oleh para tenaga pendidik di ruang perkuliahan. S2 Manajemen Inovasi Sekolah Pascasarjana Universitas Negeri Surabaya (UNESA) senantiasa mendukung fleksibilitas tata kelola kelas dalam situasi darurat cuaca demi keselamatan bersama. Pengalihan sesi tatap muka ke platform daring saat hujan badai terjadi merupakan bentuk inovasi pelayanan yang adaptif terhadap perubahan iklim.
Bagi mahasiswa yang sudah terlanjur berada di area kampus saat hujan deras turun, mereka dapat mengambil peran dalam menjaga kebersihan lingkungan makro. Memastikan bahwa tidak ada sampah plastik yang menyumbat saluran pembuangan air di sekitar gedung kuliah merupakan tindakan preventif yang sangat berdampak. Kesadaran ekologis yang kecil ini jika dilakukan secara masif akan membantu sistem drainase kampus bekerja optimal dalam mengalirkan limpahan air.
Di samping itu, para mahasiswa juga diharapkan dapat menjaga daya tahan tubuh mereka dengan membawa perlengkapan pelindung hujan yang memadai secara disiplin. Payung, jas hujan, hingga vitamin pelindung imunitas harus menjadi barang bawaan wajib di dalam tas ransel selama musim peralihan cuaca ini berlangsung. Penguatan kesehatan personal ini penting agar konsentrasi belajar di dalam ruang kelas tetap terjaga dengan baik tanpa terganggu penyakit musiman.
Dari sisi tenaga kependidikan atau karyawan, keresahan terhadap genangan air dapat dimitigasi dengan melakukan tata kelola pengamanan aset digital dan dokumen fisik. Pemindahan berkas-berkas penting ke tempat penyimpanan yang lebih tinggi harus dilakukan pada ruangan-ruangan lantai dasar yang rawan rembesan air. Perlindungan inventaris negara ini merupakan bagian dari komitmen pelayanan publik yang andal dalam menghadapi tantangan kebencanaan alam.
Pihak pengelola sarana prasarana universitas juga memegang peranan krusial dalam melakukan pemeliharaan berkala terhadap pohon-pohon besar di sekitar jalan kampus. Pemangkasan dahan yang rapuh harus diintensifkan guna menghindari risiko pohon tumbang yang dapat membahayakan keselamatan pengguna jalan saat angin kencang berembus. Langkah konkret ini membuktikan bahwa manajemen kampus memiliki kesiapsiagaan yang matang dalam meminimalkan dampak kedaruratan cuaca.
Melalui integrasi kesadaran individu, kebijakan kelas yang fleksibel, dan kesiapan infrastruktur, tantangan dari musim penghujan ini dapat dihadapi dengan kepala dingin. Civitas akademika yang tangguh akan selalu mampu menemukan solusi kreatif untuk tetap menjaga roda pendidikan terus berputar di tengah tantangan alam. Sikap responsif ini menegaskan bahwa kampus kita selalu satu langkah di depan dalam menyikapi dinamika lingkungan demi kenyamanan bersama.***
Editor : Rommy Mochamad Ramdhani